CANDU SEX ELYSIA DENGAN DESAKAN GAIRAH NGENTOT

 

Aku istri dari orang kaya, suamiku adalah pengusaha yang sukses, kami sudah memiliki anak 2 yang kebetulan laki laki semua, dan mereka sudah dewasa untuk memilih sekolah di luar negeri, setiap paginya aku selalu sendirian yang mana karena orang terdekatku tidak ada dirumah, rumah yang besar ini membuat aku temenung hanya ada para pembantu.

Begitulah setiap harinya jika malam mau tiba pembantuku pada masuk ke dalam kamarnya masing masing, untuk istirahat setelah seharian bekerja membersihkan rumah besarku, televisilah yang setia menemani dan menghiburku, tapi acara di TV membosankan aku putuskan untuk keluar ke tetangga tapi juga sama para tetangga sibuk dengan urusan masing masing, karena bosan di rumah terus menerus aku putuskan untuk pergi ke Jakarta di tempat sahabatku Elysia.

Hal itulah yang membuat aku berubah total dan drastis.

“Hai , udah tidur belon?”

“Belon, lagi nonton TV. Ada apa ? Kok tumben kamu malem malem nelpon.”

“Aku lagi stress banget nih, sejak anak-anak pergi ke Singapore di rumah sepi banget.

Mana Ruben gak pulang-pulang. Boleh gak aku nginep di rumahmu ?”“Jelas bolehlah, kamu kayak ama siapa aja. Kita khan udah kayak sodara.”

“Iya tapi aku khan takut ngeganggu elo en suami kamu.” ( Elysia anaknya dua satu cowok, satu lagi cewek.

Yang cowok kuliah di Amerika, sedangkan yang cewek udah nikah trus ikut suaminya ke Aussie

“It’s oke kok, William lagi pergi ke Amrik mungkin 2 – 3 minggu lagi baru pulang.”

“Ya udah kalo gitu, besok jemput aku di airport ya.

Aku naek pesawat paling pagi.”“Oke, ntar pagi aku suruh sopir standby di bandara.”Itulah pembicaraan singkat dengan sahabatku malam sebelum keberangkatanku.
Ketika mobil berhenti tepat di depan pintu rumah, ku lihat Elysia bergegas menghampiriku, lalu kami berpelukan sambil bercipika cipiki. “Wah wah makin cantik dan sexy aja nih” kata Elysia sambil menatapku dari atas sampai ke bawah. Cerita Sex 2017

Ah, biasa aja, kamu sendiri juga oke , spa di mana ? Aku pengen di pijit nih biar relax. “Ah bisa aja deh, aku cuma luluran aja di rumah. Kalo cuma pijit sih, Sigit juga bisa. Yang ngelulur en mijitin aku khan si Sigit.

Do’i jago lho, di jamin ketagihan deh. “ Sigit .. ? Siapa Sigit ? “Sopir pribadi aku, yang tadi ngejemput kamu. Sekarang kamu ke kamar, ntar aku suruh si Sigit ke kamar kamu” Tapi .., aku khan malu. Masak yang mijit cowok, masih muda lagi. “Udah kamu tenang aja, ntar aku temenin deh biar kamu nggak risih”

Sesampainya di kamar, aku berbaring sejenak membayangkan Sigit yang akan memijitku, menyentuh bagian-bagian tubuhku yang sudah lama tidak disentuh oleh suamiku. Orangnya masih muda kira-kira umur 25 tahun, tinggi sekitar 177 cm, berat sekitar 70 kg, berkulit sawo matang tapi bersih sehingga memberi kesan macho, dengan rambut berpotongan rapi, sopan dan ramah terlebih sorot matanya yang tajam dan rahang yang memberikan kesan gagah.

Apabila dalam setelan safarinya, terlihat seperti seorang bodyguard. Sehingga aku merasakan ada suatu desiran aneh dalam diriku. Seperti adrenalin yang bergejolak, membuatku darahku bergejolak, dan aku pun terbuai dalam lamunanku sendiri.

Tok…tok…tok… suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. “Siapa ?” Sigit, bu. Lalu akupun melangkah dan membuka pintu. Ku lihat Sigit sudah berganti pakaian, dari setelan safari berganti dengan celana jeans dan kaos ketat tipis warna putih yang semakin memperlihatkan otot-otot gannya yang kekar, juga six pack perutnya terlihat menonjol. Cerita Dewasa 2017

Aku sempet berpikir, kok kayak model iklan susu L-men, tadi kayak body guard. Hebat juga Elysia nyari sopir pribadi, jangan-jangan dia sopir plusnya Elysia, tapi segera ku tepis pikiranku.

“Mari masuk, lho.. bu Elysia mana ?” tadi sedang terima telpon, saya disuruh duluan, jawab Sigit dengan sopan.

“Hm, ya udah kamu tunggu sebentar saya ganti dulu.” Iya bu, permisi…, jawabnya.
Lalu aku pun berjalan ke kamar mandi, setelah pintu ku tutup, ku buka pakaianku. Ku pandang tubuhku dari kaca besar yang terletak di atas wastafel. Ku putar ke kiri dan ke kanan, benar juga apa yang di katakan sahabatku tadi.

Tubuhku, walaupun sudah beranak dua masih terlihat seperti iklan Tropicana Slim, memang agak montok sedikit membuat terlihat lebih sekal. Di usia yang hampir memasuki kepala empat, dengan tinggi 169 cm dan berat 53 kg, di tunjang dengan payudara 34 B, aku masih tidak kalah dengan anak-anak remaja sekarang.

Maklumlah aku sering spa untuk mengurangi stress yang ku alami, tak heran jika kulitku pun putih mulus. Bahkan selulitku telah ku buang melalui operasi di Singapore setelah aku melahirkan anak yang kedua.

Lalu kuperhatikan wajahku, meski ada sedikit keriput samar di daerah mata, tapi menurutku wajahku masih cukup cantik. Karena di kala aku pergi shopping atau sekedar jalan-jalan di mall, banyak lelaki termasuk remaja melirik ke arahku, bahkan ada di antara mereka bersuit ke arahku. Ku libatkan handuk di sekeliling tubuhku, lalu kurapikan rambutku, aku pun berjalan ke luar.

Ketika ku tutup pintu kamar mandi dari luar, Sigit bangkit berdiri dan menatapku. Ku lihat dia terpana melihatku yang hanya berbalut selembar handuk dengan rambut yang tergerai di bahu.

”kenapa Wan ?” Eh, enggak bu. Ibu terlihat cantik sekali, mirip cerita bidadari yang di filem – filem.

“Ah, kamu bisa aja Wan, pinter ngerayu. Udah berapa pacar yang kena ama rayuan kamu?” kataku sambil duduk di springbed. Enggak ada bu, saya gak punya pacar. Dulu waktu sma pernah punya pacar, tapi pas lulus langsung di nikahin sama bapaknya. Bapaknya gak mau anaknya pacaran sama orang miskin kayak saya. Cerita Sex

Ibu mau dipijit sekarang ?

“Ehm, boleh deh” kataku sambil berbaring. Sigit pun melangkah ke kasur sambil membuka tutup body lotion. Permisi bu, lalu kurasakan tangan Sigit menyentuh telapak kakiku.

Ada rasa geli dan nyaman ketika Sigit memijit telapak kakiku. Setelah beberapa menit, pijitan mulai naik ke betis dan setengah pahaku, karena separuh pahaku yang atas masih terlilit handuk. Hem, benar juga yg dibilang Elysia, nyaman juga pijitannya.

Tapi kok Elysia gak nongol-nongol, sahabatku itu kadang kalo nelpon bisa ber jam-jam lamanya, paling cepat 1 – 2 jam.

Ah terserahlah, aku udah gak peduli karena terhanyut dalam pijitan-pijitan Sigit, sehingga tanpa sadar akupun terlelap.

Entah sudah berapa menit, tiba-tiba aku merasa ada yang memanggilku. Bu..bu..a “ya, ada apa” jawabku dalam keadaan setengah sadar. Maaf, saya buka handuknya ya bu. Kakinya udah selesai dipijit, sekarang mau mijit punggungnya “Ya, silahkan” jawabku spontan.

Ketika tangan Sigit menyentuh bahu dan pundakku, kesadaranku mulai pulih. Aku teringat keadaan saat ini, di mana Elysia masih belum selesai menerima telepon. Sedangkan aku hanya berdua dengan Sigit, sedangkan tubuhku hanya bagian depan yang tertutup, karena aku berbaring tengkurap, sebagian dari payudaraku yang tertekan pasti terlihat.

Berbagai perasaan terbersit dalam hatiku, karena ini pengalaman pertamaku disentuh oleh lelaki selain suamiku. Biasanya aku selalu dipijit oleh wanita, hal inilah yang membuatku menolak saat sahabatku menyarankan Sigit untuk memijitku.

Dengan pemijat segagah Sigit, dan juga setelah sekian lama aku belum melakukan hubungan intim hal ini membuat hatiku berdebar-debar. Antara rasa malu dan nafsu yang mulai menghinggapi diriku.

Hilang sudah rasa nyaman, berganti dengan perasaan aneh yang perlahan muncul seiring dengan pijatan Sigit. Sehingga saat perasaan aneh itu sudah menguasai diriku, tanpa sadar aku mulai mendesis kala tangan Sigit mengenai daerah-daerah sensitifku.

Dia mengurut dari pinggul bawah ke atas, lalu tangannya beralih menuju pundak, ketika tangannya menyentuh leherku, aku langsung menggelinjang antara geli dan nafsu. Di situ merupakan daerah sensitif keduaku, di mana yang utama adalah clitorisku. Sehingga aku semakin liar mendesis dan tanpa sadar aku berbalik.

Dengan napas tersengal-sengal ku buka kelopak mataku, kutatap Sigit yang menatapku dengan posisi berdiri diatas lututnya. Ku lihat peluhnya bercucuran sehingga kaosnya basah oleh keringat, membuat tubuhnya jadi semakin sexy.

Aku sudah kehilangan akal sehatku, sehingga aku sudah tak ingat lagi bahwa tubuhku yang telanjang kini terpampang jelas di hadapan Sigit. Sigit pun seolah mengerti akan keadaanku lalu di ambilnya handuk yang tadi melilit tubuhku. Di lapnya keringat di wajah, lalu ketika dia membuka kaosnya langsung aku ambil handuk ditangannya.

Ku seka keringatnya sambil kuraba tubuhnya, karena tubuh suamiku sangat berbeda dengannya. Kuraba dadanya yang bidang, lalu tangan kiriku turun hingga six packnya sambil kuciumi dadanya. Sedangkan tangan yang satu lagi membelai punggungnya yang juga berotot. Ketika tangan kiriku meraih kancing celana jeans nya, tangan kanannya menangkap tangan kiriku, lalu tangan kirinya meraih pinggangku.

Sambil menarik pinggangku ke atas, dilumatnya bibirku. Oohh.. aku merasakan sentuhan yang berbeda dari yang pernah aku rasakan. Kubalas dengan melumat bibir bawahnya, lalu kurasakan lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku, kami saling melumat. Lalu di rebahkannya aku, dan dia membuka kancing celananya.

Pemandangan itu sungguh erotis sekali di hadapanku, aku bangkit lagi dan ku elus celana dalamnya yang terlihat kepenuhan itu. Ku cium bagian atasnya, tak tercium bau kejantanannya, tampaknya dia cukup merawat miliknya itu.

Ku kecup kepalanya sambil ku pelorotkan celana dalamnya. Oohh, gelegak nafsuku semakin menggelora. Segera kumasukkan batangnya ke dalam mulutku, ku sedot keluar masuk, ku dengar rintihannya yang membuatku semakin panas. Ketika ku lihat ke atas, tampak dia terpejam menikmati sedotanku.

Setelah ku hisap selama kurang lebih sepuluh menit, Sigit menghentikan gerakanku. Di lumatnya lagi mulutku sembari membaringkan aku di tempat tidur. Lalu dilumatnya leherku, sehingga aku kembali menggeliat liar.

“Ekhs.., wan…” Ku cengkeram sprei tempat tidur, sementara tangan yang satu lagi mencengkram punggungnya. Tampaknya Sigit sudah mengetahui kelemahanku, dia segera berpindah untuk melumat bukit kembarku.

Lidahnya melumat habis kedua bukitku beserta ujung ujungnya. Sementara tangannya terus turun meluncur melalui perutku, sampai pada bukit kecilku yang berbulu tipis yang kini sudah semakin basah.

Aku memang selalu rajin mencukur bulu jembutku, karena aku suka memakai celana dalam G-string. Tangannya kini sudah mencapai lipatan vaginaku, dan tersentuhlah clitorisku. Aku langsung tersentak, seperti terkena setrum ribuan volt. “akhs….. wan……” jeritku sambil meremas rambutnya.

Sementara tangan Sigit bermain di selangkanganku, lidahnya kini turun ke perutku, bermain sebentar di seputar perut lalu kembali turun ke vaginaku. Kedua belah tangannya memegang kedua belah pahaku, sambil di pandanginya meqi ku yang basah oleh cairan kewanitaanku.

“Meki bu a indah sekali..” perkataan itu seakan memberi suntikan gairah sehingga ku berkata dengan merintih “ayo wan.. jangan di liatin aja” langsung di benamkannya bibirnya ke dalam meqi ku, sementara hidungnya mengenai clit ku, sehingga aku langsung tersentak mendongak ke atas.

Di julurkannya lidahnya menyapu bagian dalam vaginaku, sehingga aku merasa seperti ada yang menggelitiki vaginaku itu. “oohhh….terus wan…..terus….” rintihku sambil terus meremasi rambut di kepalanya.

Tangannya menggapai kedua belah payudaraku, sambil meremasi sesekali dia pelintir kedua pentilku. Membuatku menjadi semakin liar, dan ku rasakan badai kenikmatan yang terus menggelora di dalam diriku.

Sampai akhirnya saat bibir Sigit mengecup lalu menghisap clit ku, aku tersentak sedemikian hebatnya sambil menjerit

“Aaakkhhsss…… wwaaannnn………” ku jepit kepalanya sambil kuangkat pinggulku tinggi tinggi, kedua tanganku menjambak rambutnya.

Sigit pun tak henti hentinya terus menusuki vaginaku dengan lidahnya sembari memutarkan kepalanya, dihisap dan dijilatinnya hingga habis cairan yang keluar meleleh dari vaginaku, aku pun serasa terbang di awan-awan.

Seketika itu tubuhku melemas, Sigit pun merangkak naik ke arahku, di peluknya diriku, di kecupnya keningku lalu dilumatnya bibirku. Akupun membalasnya dengan melumat kembali bibirnya yang menurutku cukup sexy untuk dilumat.

Kami saling berpandangan beberapa saat, aku serasa kembali menemukan sesuatu yang kini mengisi relung-relung hatiku yang sepi.

“Masukin kontolmu wan, tapi pelan-pelan dulu ya. Aku masih agak lemas nih” kataku dengan lirih di telinganya.

“Baik, bu.”

“Jangan panggil ibu terus ah, gak enak didengernya. Maukah kamu memanggilku sayang ?”

“Baik, sayang. Aku masukin ya.”

“He eh, tapi pelan pelan lho” dan kurasakan kepala kontolnya yang mengkilap merah menempel pada kemaluanku. Ada rasa berdebar di hatiku, inilah kejantanan selain milik suamiku yang beruntung dapat memasuki liang senggama milikku.

Kurasakan perih ketika kepalanya masuk sedikit di bibir lubangku “wann, pelann.. agak perih nih.”

“Iya sayang, ini juga pelan-pelan kok.” Sigit kembali menekan pantatnya, dan penisnya kurasakan semakin menyeruak masuk ke dalam vaginaku.

Akupun spontan memeluk Sigit “aakh..wann….”

“tahan sedikit sayang!” Sigitpun menghentakkan pantatnya dengan sekali hentakan dan seketika kurasakan perih yang kurasakan saat keperawananku hilang. Sigit pun mengangkat pantatnya pelan-pelan, sehingga aku merasa vaginaku seperti tersedot keluar seiring dengan kontol Sigit.

Lalu ditekannya kembali kontolnya ke dalam vaginaku, rasa perih yang semula kurasa itu hilang berganti sensasi nikmat di kala punya Sigit keluar masuk dengan berirama menggelitiki dinding kewanitaanku.

“akhs…enak wan….teruss sayang….”

“vaginamu seret banget yang, kontolku kayak di urut nih” dilumatnya kembali bibirku, kamipun berpagutan sambil bergoyang pelan.

Setelah beberapa saat Sigit mengentotiku dengan irama pelan, yang membuatku seakan sedang bercinta dengan kekasih yang telah lama tak bersua, gairahku timbul bersama dengan kekuatan yang mulai pulih setelah orgasme tadi.

Dengan berpelukan, ku gulingkan tubuhnya ke sampingku, kini posisiku ada di atas tubuhnya dengan penis tetap tertancap di vaginaku.

“giliranku sayang.. , aku ingin memberikan kamu kenikmatan, seperti yang udah kamu berikan kepadaku.”

Ku tekan dadanya yang bidang dengan kedua tanganku, lalu ku angkat pelan pelan pantatku

“Oookhh…..” Sigit memegang kedua tanganku sambil matanya membeliak

“kenapa sayang ?”

“kontolku kayak di sedot ke atas.”

Akupun tersenyum sambil menurunkan kembali pantatku, ku lakukan beberapa saat, hingga ku lihat Sigit pun merem melek keenakkan. Sesekali ku goyangkan pantatku ke kanan dan ke kiri.Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Elysia pun masuk sambil ketawa-ketawa “Wah, enak kok gak ngajak-ngajak.

Gimana ? bener khan yang aku bilang, Sigit tuh jago banget, aku aja udah gak tau berapa kali aku di KO in dia.”

“Iya , kamu dapet dari mana sih ?”

“rahasia donk, ya gak say ?” jawabnya sembari mencium Sigit.

Mereka pun berpagutan, lalu Elysia berhenti dan melepas pakaiannya. Dikangkanginnya muka Sigit dengan posisi berhadapan denganku. Sigitpun tanpa disuruh langsung dilahapnya vagina Elysia, sehingga Elysia pun mendesis keenakan.

Buah dada ku disambar oleh Elysia dan dihisap hisapnya, tangan yang satu memilin milin putingku. Hal ini membuatku merem melek keenakan, sungguh suatu sensasi luar biasa timbul dalam diriku, inilah threesome pertamaku.

Gairahku terus memuncak sehingga datanglah gelombang orgasme ku yang ke dua. Elysia dan Sigit seperti mengetahui akan keadaanku, akupun dipeluk oleh Elysia dan dikulum nya bibirku. Ada perasaan yang sulit diungkapkan ketika Elysia menciumku, tapi yang kuingat adalah gelora birahi membara yang menuntunku menuju gerbang orgasme.

Sigit pun menyambut hentakanku dengan mengangkat pantatnya ke atas sehingga batangnya terbenam habis ke dalam vaginaku dan menyentuh G-spot ku. Akupun mengerang panjang Aaakkkkhhhh……….. cairan orgasme ku mendesir keluar membasahi kontol Sigit, akupun terkulai dalam pelukan Elysia.

Elysia memandangku sambil membelai rambutku, dia menciumku mesra. Akupun membalasnya, aku merasa bahagia seperti menemukan kembali cinta yang hilang.Aku membaringkan diriku ke sebelah, ku lihat Elysia mengulum batang kemaluan Sigit. “Ehm.. peju mu enak banget ” aku hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatku itu.

Lalu Elysia pun berubah posisi, dia berbalik menghadap Sigit, di enjotnya kontol Sigit. Dengan liar ia bergoyang sambil mulutnya terus menceracau dan mendesis, payudaranya yang satu dihisap Sigit, yang satu putingnya di pilin pilin.

Lalu tubuhnya bergetar hebat, dicengkeramnya pundak Sigit Ooohhhh……. Wwaannnn……. aakkuuu kelluuaarrrr…….. Sigitpun lalu bangkit, sambil mengangkat tubuh Elysia dia membaringkan Elysia lalu menggenjotnya.

Sodokannya begitu cepat sehingga tubuh Elysia terguncang guncang.

Lalu diapun mengerang Aaakkkkhhhh……….. bbbuuuu………. Aakkuuu uuddaahh mmooo kelluuaarrrr…….. Elysia dengan sigap langsung menyambar kontol Sigit dan mengulumnya. Sigit pun langsung mengejang, seketika ditariknya kepala Elysia sambil menyemprotkan pejunya ke dalam mulut Elysia. Tampak cairan kental keputihan meleleh dari sela sela bibir Elysia.

Akupun beringsut maju, turut serta mengulum batang dan peju Sigit. Akhirnya kami bertiga tidur bareng dalam keadaan bugil.Itulah awal cerita yang membawaku ke dalam petualangan sex yang lebih liar. Mohon saran, kritik dan komentarnya, supaya di tulisan selanjutnya bisa lebih baik dari sekarang.

Pintu kamarku tiba-tiba terbuka, tampak wajah cantik Elysia di balik pintu.

“Udah siap belon ?”

“Bentar lagi, aku belon make bedak nih.” “Aku tunggu di mobil ya.” Elysia segera menghilang dari balik pintu.

Ku oleskan bedak tipis pada wajahku, ku pandang cermin, aku cukup puas dengan riasan yang ku pakai. Aku tidak suka merias wajah secara berlebihan, paling hanya menggunakan bedak, lipstik dan sedikit bloss on, itupun dengan olesan tipis. Ku ambil tas tangan yang tergeletak di meja, lalu kulangkahkan kaki menuju pintu.

Mobil meluncur membelah jalanan kota Jakarta, kami menuju ke arah Kota. Di jalan Mangga Besar, kami membelok ke arah Lokasari Plaza. Setelah Sigit memarkirkan mobil, kamipun berjalan-jalan di daerah sekitar situ.

Ada banyak tempat judi ketangkasan di daerah ini (pada waktu itu belum ada larangan seperti sekarang ini), tempat demi tempat kami masuki, rupanya Sigit hobi bermain judi ketangkasan.

Elysia pun sepertinya sudah tak asing dengan tempat tempat seperti ini, karena ku lihat beberapa orang menyapanya dengan sopan. Sigit memutuskan akan bermain di salah satu tempat, dia berbicara kepada Elysia lalu Elysia memberikan sejumlah uang dan kartu ATM kepadanya.

Elysia mengajakku keluar, kamipun keluar masuk di discotheque yang berada di daerah yang sama. Satu demi satu tempat itu kami masuki, aku merasa pengap dengan keadaan di dalam discotheque tersebut. Asap rokok, musik House yang hingar bingar, orang-orang yang berjoget sampai untuk jalan pun susah.

Ada beberapa cowok yang mendekati dan berusaha mengajak kami berkenalan, ada yang menawarkan minuman, bahkan ada yang menawarkan ‘inex’ (exstacy). Elysia hanya tersenyum dan tertawa sambil terus berjalan, sesekali berhenti karena ada yang dia kenal.

Aku heran dan takjub kepada sahabatku, kok bisa ya dia seperti ini tapi aku tidak mengetahui sama sekali. Apakah aku yang naif dan terlalu mudah dibohongi, atau dia yang hebat dalam bersandiwara. Kalo dia berprofesi sebagai aktris, aku rasa udah banyak dia sabet piala-piala penghargaan.

Handphone Elysia berdering, dia masuk ke dalam toilet, supaya dia dapat menjawab panggilan itu. Sekeluarnya Elysia dari dalam toilet, dia mengajakku keluar.

Setelah di luar, dia bercerita bahwa yang tadi menelepon adalah temannya yang lagi bete di rumah. Lalu setelah Elysia menceritakan bahwa ia bersamaku, temannya itu mengundang ke rumahnya, katanya ingin berkenalan denganku dan akan mempersiapkan Welcome Party buatku.

Kami mendatangi Sigit di tempatnya bermain ketangkasan, setelah kami menemukannya Elysia meminta kunci mobil. Kamipun bergegas pergi dari tempat itu menuju rumah kawan Elysia.
“Kok, kamu nyupir sendiri ? Kenapa gak pake Sigit ?”

“Gak pa pa, dia tu kalo udah kena maen, mo sampe besok juga dia mah betah. Lagian kita khan mo ngerayain Welcome Party buat kamu. Kata temen aku, partynya khusus cewek aja.”

Aku jadi penasaran, party macam apa nih ? masak cuma cewek aja yang boleh.

Mobil yang kami tumpangi mulai berbelok memasuki gerbang perumahan teman Elysia, kami berhenti sebentar, setelah security menanyakan indentitas dan maksud kedatangan kami, kamipun diperbolehkan masuk.

Kami tiba di depan sebuah rumah yang cukup megah dan luas, mobil langsung masuk ke pekarangan dan berhenti tepat di depan pintu garasi. Rumah rumah di komplek itu tidak mempunyai pintu pagar, tapi berhalaman taman yang cantik cantik dan menarik. Cerita Ngentot 2017

Elysia mengetuk pintu rumah itu, temannya yang membuka pintu. Cantik juga, tubuhnya tinggi semampai, bodynya langsing kulitnya putih, biasalah ciri khas keturunan Tionghoa. “Hai, apa kabar ? Wah temen kamu cantik .”

Katanya sembari cipika cipiki dengan Elysia, lalu dia menjabat tanganku sambil bercipika cipiki denganku

“Selamat datang ya, aku Aretha” “a” jawabku singkat. “Mari masuk, gak usah sungkan-sungkan, anggap aja rumah sendiri.” Elysia masuk sambil ngobrol dengan Aretha langsung menuju ke suatu ruangan.

Sementara aku memandang sekeliling dinding yang penuh dengan lukisan lukisan wanita. Ada yang berdua, bertiga, berempat bahkan yang rame- rame pun ada. Waktu ku perhatikan lukisan lukisan itu, aku merasa janggal, kenapa wanita wanita dalam lukisan semuanya tak berbusana, paling banter terlilit kain itupun masih menonjolkan bentuk tubuh yang sexy.

“, ngapain kamu ?” tegur Elysia tiba tiba yang mengejutkanku.

“Ah elo , ngagetin aja, untung aku gak jantungan. Kok rumahnya sepi sih ?”

“Khan Aretha tinggal sendiri di sini.” “Lha suami ma anaknya mana ?”

“Dia gak punya anak, udah cerai ama suaminya gara-gara gak bisa ngasih keturunan.” “Kok gak nikah lagi ? Dia khan cantik, masa gak ada cowok yang mau.” “Dia pernah coba tapi malah dia lebih sering di sakitin.

Ada yang cuma mau hartanya, ada yang suka maen cewek, yang terakhir yang paling parah, suka mukulin. Makanya dia lebih pilih hidup sendiri, dia udah trauma ma cowok.”

“Apa karena itu, lukisan lukisan ini semua gambarnya cewek ?”

“Hei, lagi pada ngapain sih di sini ? Ngobrolnya di dalem aja yuk !” Tiba tiba Aretha muncul sehingga pertanyaanku tak terjawab oleh Elysia, kamipun masuk mengikuti Aretha.

Kami duduk di sofa panjang dan lebar, yang ukurannya hampir mirip spring bed seukuran anak remaja. Di depan kami terdapat meja yang panjang dan lebarnya mengikuti ukuran sofa, di samping kiri ada sebuah mini Bar.

Pembantu Aretha, kira-kira berumur 19 tahun berwajah ayu, rambutnya panjang lurus sebahu, kulitnya sawo matang, berkaus putih ketat sehingga menonjolkan payudara yang berukuran sedang tapi tampak padat dan kencang.

Celana pendeknya ketat membuat paha dan betisnya, yang kata orang Jawa ‘mbunting padi’, terpampang sexy dan indah. Dia sedang membuatkan minuman bagi kami, tampaknya dia cukup terlatih dalam hal meracik minuman. Kami pun ngobrol sambil nonton TV Plasma yang menyiarkan acara luar negeri.

Sandra berjalan ke arah kami sambil membawa snack, sebuah pitcher berukuran besar dan empat gelas crystal, rupanya Sandra ikut nimbrung bersama kami. Setelah semua minuman sudah dituang, Aretha mengajak kami melakukan ’toast’.

Kamipun mereguk minuman kami masing-masing, bau wiskhy tercium ketika gelas itu menyentuh bibirku, tapi rasanya manis, sedikit agak keras ketika mengalir di tenggorokan, langsung berasa hangat ketika sampai di perut.

Dituangnya kembali minuman ke dalam gelasku, sekarang gantian Elysia yang mengajak ‘toast’. Kamipun terlibat dalam perbincangan seru, seakan kami sudah kenal lama, beginilah wanita kalo udah ngumpul. Gelas demi gelas minuman telah kami teguk bersama, makin lama obrolan kamipun udah mulai ngawur.

Kepalaku sudah mulai pening, akupun bersandar pada sandaran sofa. Acara TV yang dari tadi tidak kami tonton sudah berubah, sekarang mereka menyiarkan film percintaan dengan adegan sex yang tidak tersensor. Ku tonton film dengan keadaan setengah mabuk, ada desiran rangsangan yang merambati diriku.

Ku pejamkan mataku, aku merasa seperti aku yang berada dalam film itu. Sentuhan tangan aktor di film itu seperti nyata merabai paha, membelai kepala dan wajahku. Kurasakan ciumannya lembut, melumat bibirku, aku semakin terbuai.

Tangannya naik dari paha ke payudaraku, meremasinya membuatku mendesah nikmat. Ku rasakan kancing celana jeansku berusaha dibuka, tampaknya tidak berhasil sehingga aku mencoba membantunya. Saat aku menyentuh kancing celanaku, tersentuh olehku tangan halus yang berkuku, sehingga aku membuka mataku.

Oohh.. ternyata yang aku kira aktor itu adalah Aretha. Aku terkejut dan berusaha bangun, tapi tubuhku masih lemas sehingga hanya kepalaku yang terangkat. Ku arahkan pandang ke samping, ku lihat Elysia pun tengah bercumbu dengan Sandra. Pakaian mereka sudah berantakan, berserakan di sekeliling mereka.

Pemandangan ini membuat gairahku menggelora, ku palingkan wajah ke arah Aretha yang telah berhasil membuka celana jeansku. Ku peluk Aretha, ku tarik wajahnya mendekat ke mukaku, ku lumat bibirnya yang merah dengan rakus dan liar, diapun tak kalah seru membalas ciumanku. Tanganku meluncur turun dari punggung ke arah bongkahan pantatnya yang bahenol.

Aretha sudah melepas celananya dari tadi, dia hanya mengenakan BH dan celana G-String warna merah, yang kontras dengan warna kulitnya sehingga membuatnya semakin seksi. Kuremasi pantatnya, ku tarik tali celana dalamnya, sehingga bagian depannya masuk ke belahan vaginanya yang sudah basah dari tadi, menggeseki ketitnya. Arethapun tak tinggal diam, tanggannya meluncur turun masuk ke dalam celana dalamku.

Diremasinya bukit kemaluanku, tangannya liar mengobok obok vaginaku, jarinya lincah bermain di itilku, sesekali keluar masuk dalam vaginaku. Kamipun mendesah, nafas kami sama sama memburu, memburu kenikmatan yang tiada tara. Desakan gairah yang menggelora membuatku melepas orgasme yang pertama.

Tubuhku yang mengejang segera disambut oleh gesekan jari Aretha yang semakin cepat menari di itilku. Kuremas rambut Aretha, aku mengerang sembari menarik pinggulnya agar semakin rapat menghimpit badanku.

Aku mengejang beberapa kali, Aretha menciumi dan membelaiku lembut tapi ‘panas’. Aku tahu Aretha juga sudah dalam keadaan ‘puncak’, orgasmeku mulai mereda, aku langsung melancarkan seranganku, kutarik badannya ke atas sehingga toketnya tepat berada di wajahku yang langsung kukenyot, sesekali ku gigit dan kutarik putingnya. Kuremasi bokongnya, sementara tangan yang satu bermain di vaginanya.

Kujepit itilnya dengan dua jariku, kutarik pelan, kadang kuputar, Aretha semakin liar mengerang dan menjambaki rambutku. Erangannya semakin keras, dia bangkit berdiri, dikaitkannya kakinya yang satu ke bahuku, vaginanya kini tepat berada di wajahku.

Langsung ditekannya pantatnya ke wajahku, yang segera kusambut dengan jilatan dan hisapan. Aretha menjambak rambutku lalu menggoyangkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, diikuti dengan gerakan pantatnya yang berlawanan.

Dia mendongak sambil mengerang, kurasakan cairan hangat menyembur ke dalam mulutku, langsung kutelan dan kusedot lagi cairan berikutnya. Beberapa kali Aretha mengejang, lalu badannya melemas dan rebah di sampingku. Ku peluk erat Aretha, ku ciumi dengan penuh gairah, gairahku masih tinggi sehingga membuatku terus menggumuli Aretha yang masih menikmati orgasmenya.

Lalu aku bangkit, ku lihat Elysia dan Sandra yang sedang dalam posisi 69, Elysia berada di bawah. Kuhampiri mereka, ku belai punggung Sandra dari atas hingga pantat. Sandra mendongak yang langsung kusambut bibirnya, kami berciuman sambil ku masukkan jariku ke vagina Elysia. Lalu aku membantu Sandra menjilati vagina Elysia, jariku memilin milin ketit Elysia, sedangkan jari Sandra terus merojoki vagina Elysia. Elysia semakin meliar, lalu dia mengerang dan mengejang.

Cairannya yang keluar segera kami sambut, berebut kami jilati dan hisap, bahkan walaupun udah di mulut, kami masih saling hisap. Aku kini beralih ke arah Elysia, wajahku menghadap bongkahan vagina Sandra yang menggumpal tebal. Ku jilati vagina Sandra dengan rakus, bibir vagina yang tebal membuatku nafsu.

Tiba tiba kurasakan ada benda menyentuh kemaluanku dari belakang. Kulihat Aretha mengenakan celana bertali kulit hitam, di depannya tergantung penis buatan seperti dildo, di tangannya juga menggenggam tiga buah vibrator yang langsung diberikannya kepada Elysia.

Aretha memegang pinggulku, aku masih dalam posisi nungging sambil memegangi pantat Sandra, di masukkannya penis itu ke dalam vaginaku. Bless… seketika terbenamlah penis itu kedalam punyaku yang basah. Aretha mulai memaju mundurkan pantatnya, ku ambil vibrator di tangan Elysia sambil kugoyangkan pantatku mengimbangi goyangan Aretha.

Kumainkan vibrator itu ke meqi Sandra, Elysia pun memainkan vibrator tepat di itil Sandra. Sandra juga melakukan hal yang sama di vagina Elysia, kami berempat mendesis seperti orang kepedasan. Aku sudah sampai pada tahap tahap puncak, ku goyangkan pantatku sejadi jadinya, hingga tubuhku melemas. Aretha mencabut ‘penis’ nya dari vaginaku, penis itu terlihat mengkilap berlumuran pejuhku, ditusukannya penis itu ke dalam vagina Sandra.

Elysia menjilati pangkal penis itu sampai ke lubang Aretha, sesekali di tariknya itil Aretha. Sandra yang sedari tadi belum orgasme, sudah tidak kuat lagi menahan gelombang orgasme yang menderanya. Dia pun mendongakkan kepalanya ambil mengerang keras, Aretha semakin semangat mengocoknya dari belakang, akhirnya Sandra melemas di atas tubuh Elysia. Aku dan Elysia menjilati ‘penis’ yang sudah berlumuran peju ku dan Sandra.

Aretha lalu duduk, Elysia bangkit dan duduk berhadapan di atas Aretha, Elysia bergoyang erotis sekali. Aretha menyedoti tetek Elysia, aku meremasi dari belakang, jariku kumainkan di vagina Aretha. Tak lama Elysia melepas orgasmenya, dia terkulai memeluk Aretha. Sandra sudah bangkit mengikutiku memainkan vagina Aretha, dimainkannya vibrator dengan liar di vagina itu.

Ku hisap dan kugigiti itil aretha, Aretha pun mengeletar dan muncratlah pejuhnya. Aku dan Sandra langsung berebut menyambar cairan itu. Kami benar benar menikmati permainan yang baru saja kami lakukan. Dengan tubuh bugil dan basah oleh keringat, kami terlelap sambil berpeluk pelukkan.

Saat ku terbangun di pagi hari, kepalaku masih agak pening karena mabuk semalam. Ku coba untuk mengembalikan kesadaranku yang belum benar benar pulih. Pelukan tangan yang halus, tubuh bugil tanpa selembar benangpun, mengingatkanku akan kejadian semalam. Aku membalikkan tubuhku, ternyata Sandra yang memelukku.

Elysia dan Aretha berbaring berpelukan tak begitu jauh dari tempat ku berbaring, mereka pun dalam keadaan telanjang bulat. Ku pandangi wajah Sandra, hembusan nafasnya naik turun beraturan membuat payudaranya bergerak naik turun dengan berirama. Bibir tipisnya berwarna merah muda tanpa polesan lipstik, sedikit membuka sehingga terlihat agak menantang.

Gairahku yang mulai berdesir membuatku tergerak untuk melumat bibir Sandra. Sandra terbangun karena lumatan bibirku, ketika tahu yang melumat bibirnya adalah aku, dia membalas lumatan bibirku. Kami berpagutan dengan romantis, lidah kami saling beradu, menggelitiki rongga mulut dengan bergantian, sesekali Sandra menggigit lidahku, yang ku balas dengan menggigit bibir bawahnya.

Tangan Sandra yang tadi memelukku, kini aktif menelusuri tubuhku. Sentuhannya pelan tapi menggairahkan sekali, terutama bila aku mendesah karena sentuhannya mengena di bagian sensitifku, dia malah memainkan daerah itu dengan diiringi senyuman nakal, lalu dilumatnya bibirku yang membuka karena mendesah.

Kepiawaiannya dalam bercumbu sungguh luar biasa, hal ini bisa jadi karena Sandra adalah pasangan Aretha dalam menyalurkan hasrat sexualnya. Aku dibuatnya terbuai dengan cumbuan cumbuan Sandra, sehingga vaginaku menjadi becek karena cairan kewanitaanku yang terus mengalir beriringan dengan rangsangan yang kuterima.

Kurasakan aku sudah mulai melihat ‘gerbang dari puncak kenikmatan’ yang aku rasakan. “Yan..please…aku udah gak tahan…” rintihku sambil meremasi rambutnya. Langsung Sandra memposisikan wajahnya di selangkanganku, di jilat dan di hisapnya itil-ku. Aku merasa seperti tersengat listrik ribuan volt, aku terdongak sambil menjambak rambut Sandra.

Ku angkat pinggulku, ku goyangkan ke kanan dan ke kiri, sesekali ku putar sembari tangan ku meremasi rambut Sandra. Lidahnya sungguh lihai bermain di vagina ku, jarinya pun keluar masuk dengan cepat, membuatku sampai kepada orgasme, yang telah mendesak untuk segera dikeluarkan.

“Ooughh…yann…” aku mengejang, pahaku menjepit kepalanya. Sandra masih terus mengocokkan jarinya sambil matanya menatapku. Aku mengejang beberapa kali sampai orgasme ku mereda, Sandra pun menghisap habis cairan yang ku keluarkan.

Erangan dan teriakanku saat mencapai puncak telah membangunkan Elysia dan Aretha. Mereka pun terbakar gairahnya dan mulai saling mencumbu satu sama lain. Sandra kini bangkit dan jongkok di atas wajahku. Langsung ku sambar itil-nya yang sudah memerah dan basah oleh dirnya, ku masukkan jariku ke dalam vagina yang sudah basah itu, ku kocok dengan cepat sehingga berbunyi.

Sandra menjambak rambutku sembari menggoyangkan pantatnya maju mundur. Tangannya yang satu meremasi payudaranya sendiri, tak berapa lama tubuhnya mulai bergetar. Sambil mengerang panjang, ditekannya pantatnya ke wajahku, pejuh menyembur banyak sekali. Saking derasnya semburan cairan pejuh nya, cairannya itu sebagian meleleh keluar dari mulutku. Sandra membungkuk mencium mulutku yang masih penuh dengan pejuh nya, di telannya sebagian pejuh itu. Cerita Horny 2017

Elysia pun sudah sampai pada orgasmenya, sekarang dia mengenakan celana kulit berpenis plastik yang semalam di kenakan Aretha. Aretha berposisi ‘doggy’, dengan kedua tangannya memegangi pinggiran sofa. Aretha lututnya menempel di karpet lantai, tangannya yang satu memegangi pantat Aretha, yang satu lagi sesekali menampar bokong Aretha, sehingga bokong Aretha yang putih itu memerah.

Aretha mendesis dan mengerang tak karuan, tangannya meremasi sofa sambil memaju mundurkan pantatnya. Aretha mendongak dengan guhan panjang, Aretha sampai di puncak orgasmenya, Elysia menghentakkan pantatnya dengan keras sembari mencengkeram bokong Aretha. Tubuh Aretha bergetar beberapa kali, tampak cairan putih meleleh dari penis buatan itu, lalu mereka berdua ambruk bergulingan di dekat kami.

Tak lama kamipun bangun dan mandi bersama, di dalam kamar mandi yang luas itu, kami kembali melakukan sex. Lalu kami sarapan, atau lebih tepatnya makan siang, makanan yang dipesan dari salah satu restoran cepat saji dari mall di dekat komplek perumahan Aretha.

Pada waktu kami habis makan telepon genggam Elysia berdering, ternyata dari Sigit. Sigit yang menang judi, mengajak kami untuk dugem nanti malam. Elysia menanyakan ajakan Sigit kepada Aretha, yang dijawab dengan anggukan kepala tanda setuju. Kamipun memutuskan untuk tidur siang agar nanti malam bisa fit.

Ketika malam tiba…

Sigit sudah membooking sebuah room karaoke di discotheque yang berlokasi di daerah Glodok. Kami sudah tiba di room tersebut, ternyata room tersebut tidak digunakan untuk berkaraoke melainkan untuk triping.

House music mengalun keras membahana di ruangan yang berukuran lumayan itu. Setelah minuman yang dipesan datang, Sigit membagi-bagikan pil yang berukuran kecil. Setelah kami meminumnya, kami berjoget dan bergoyang bersama.

Kira kira 30 menit setelah aku meminum pil yang diberikan Sigit tadi, aku merasa ada perasaan aneh yang menyelimutiku, ada sensasi aneh yang sulit ku ungkapkan. Ku lihat Aretha, Sandra & Elysia berjoget dengan sexy dan erotis sekali, Sigit hanya duduk sambil menggegkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

Tak lama Elysia menghampiri Sigit, dia membisikkan sesuatu ke Sigit, yang di jawab dengan anggukan kepala. Lalu Elysia mengajakku keluar, langkah kakiku terasa ringan sekali.

Ternyata Elysia mengajakku ke discotheque yang letaknya tak jauh dari tempat karaoke, hanya berbatas sebuah lobby dengan aquarium besar di tengahnya. Kami masuk ke discotheque itu, Elysia mengajakku berkeliling, sempat kami berjoget di panggung yang terletak di bagian depan tempat itu.

Ada dua anak muda yang sedang berjoget di depan speaker besar, tak jauh dari tempat kami berjoget. Salah satu dari mereka melihat ke arah kami, Elysia pun melihat ke arah mereka. Lalu Elysia berjoget dengan salah satunya, sehingga praktis temannya menghampiri aku. Kami berkenalan, yang bersama Elysia bernama Bule, yang bersamaku bernama Black.

Keduanya keturunan chinese, yang satu berkulit putih dengan rambut di warna pirang sehingga dia dipanggil bule. Yang satu lagi berperawakan tinggi kekar, berkulit hitam, itulah yang menyebabkan dia dipanggil Black.Kami berjoget bersama, tak lama Elysia berbisik kepada Bule, mengajaknya ke room. Bule dan Black tak menolak ajakan Elysia, kamipun beranjak dari tempat itu kembali ke room kami.

Setibanya di room, Sigit, Aretha dan Sandra tengah bercumbu, tapi masih mengenakan pakaian, walaupun dalam keadaan berantakan dan terbuka di bagian bagian tertentu. Kedatangan kami membuat aktifitas mereka terhenti, setelah berkenalan, Sigit memberikan ‘inex’ kepada Bule dan Black.

Bule dan Black sendiri tadi telah ‘on’ tapi masih menelan ‘inex’ yang di berikan Sigit. Kamipun berjoget kembali, Sigit kembali meneruskan cumbuannya kepada Aretha, Sandra bermain dengan penis Sigit. Pemandangan itu membuat kami ‘terbakar’, Elysia pun mencumbu dengan Bule, Black juga tak mau kalah mencumbu aku. Satu persatu pakaian kami berserakan di lantai, hingga tak ada lagi yang mengenakan sehelai pakaian pun di tubuh.

(Maaf, sulit untuk menceritakan secara detail yang tengah terjadi saat itu, karena pengaruh obat dan rangsangan)

Sigit sudah mengentoti Aretha yang nungging sambil menjilati vagina Sandra, Elysia sedang mengoral kontol Bule, Black tengah meremasi payudaraku sambil lidahnya bermain di vagina ku. Tak tahan dengan gairah yang menggebu gebu aku melepas orgasme ku. Tapi aneh, walaupun aku sudah ‘keluar’ , gairahku masih meluap.

Kuraih kontol Black yang lumayan besar dan panjang itu, ku hisap sambil ku naik turunkan tanganku, Black hanya mendesah sambil memandangku. Aretha pun sudah ‘keluar’, sekarang Sigit duduk di sofa, Sandra duduk mengangkang dengan punggung menghadap Sigit, goyangannya erotis sekali. Elysia kini bersandar di dinding, dengan satu kaki terangkat di gan Bule, tangannya bergayut pada leher Bule, Bule sedang mengentoti nya sambil berdiri.

Aku duduk di meja sambil mengangkangkan pahaku selebarnya, Black berlutut lalu menancapkan kontol nya. Aretha menghampiriku, menciumku sambil tangannya meremasi pantat Black. Black pun mencabut kontol nya, dia menarik Aretha agar nungging di hadapannya, lalu ditancapkanlah kontol nya ke dalam vagina Aretha, vaginaku kini di jilati Aretha. Elysia juga sudah mengalami orgasme, Bule kini berbaring di lantai, dan Elysia berada di atasnya (WOT).

Sandra yang juga sudah ‘keluar’, duduk mengangkang di entoti Sigit. Aku ‘keluar’ lagi, cairanku disedot Aretha yang masih di ‘doggy’ ama Black. Lalu Aretha berposisi WOT di atas Black, tak lama Aretha ‘keluar’ di barengi dengan Black.

Bule pun udah orgasme waktu Elysia nungging sambil ngoral kontol Sigit yang abis orgasme. Kami beristirahat sambil minum minum, waktu gairah dan enerji kembali pulih, kami kembali melakukan sex seperti tadi dengan berganti ganti pasangan.
Hingga pagi menjelang, kami berpisah dengan kenangan tak terlupakan.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts