PAK ARMAN BAPAK KOST KU

PAK ARMAN BAPAK KOST KU
CERITA SEX GAY,,,,,
Sore itu cuaca begitu buruk, langit
tampak gelap dengan gerimis yang
mulai turun. Aku sendiri bete banget
di kost-kost-an, sepi. Pak Arman
bapak kostku masih di kantor, ibu
kost ngurusin bisnisnya di luar kota
dan kedua anak ibu kost kuliah di
Jakarta, itu pula yang mungkin
menjadi alasan mereka mau
‘menampung’ aku, ‘dari pada sepi’.
Yang kost di rumah ini memang
hanya aku sendiri, jadi sudah seperti
keluarga. Aku sendiri masih duduk di
bangku SMA kelas 2. Tapi karena
kebetulan jarak sekolahku lumayan
jauh, aku disuruh kost. Pak Arman
sendiri adalah kenalan Bapakku.
“Bi, masak apa hari ini..?” dari pada
menganggur, kuhampiri Bi Onah di
dapur.
“Eh, Den Anto, biasa Den.. gulai
kambing kesukaannya Tuan Arman.”
“Wiih asiik Anto juga suka! Apalagi
kalo Bibi yang masak, hmm.. enggak
ada duanya Bi!”
Si Bibi hanya tersenyum.
“Anto bantuin ya?”
“Aduh enggak usah, Den! Inikan
kerjaannya cewek..”
“Kata siapa, Bi. Sekarang mah udah
berubah, enggak ada lagi perbedaan
kayak gitu. Buktinya direstoran-
restoran terkenal kebanyakan tukang
masaknya cowok!”
“Tapi, Den..”
“Udah, enggak apa-apa Bi, dari pada
bengong. Sekarang mana yang bisa
Anto bantu?”
Akhirnya si Bibi nyerah juga. Aku
bantuin apa saja sebisaku, motong-
motong daging, menggoreng bumbu,
wah ternyata asyik juga.
“Ada koki baru, nih?” tiba-tiba
terdengar suara berat di belakangku,
aku menengok, ternyata Pak Arman.
“Eh, Bapak..!” aku jadi malu sendiri,
“Dari pada bengong nih Pak, apalagi
tadi bete banget!”
Pak Arman hanya tersenyum.
“Pakaian Bapak kok basah semua?”
“Tadi mobilnya mogok di tengah
jalan, ya udah mau enggak mau
kudu hujan-hujanan..”
Aku terus menatap tubuh Pak Arman.
Dalam pakaian basah seperti itu jelas
sekali terlihat bentuk tubuhnya. Di
usia kepala empat, Pak Arman
memang masih kelihatan gagah dan
kekar. Aku sedikit berdesir melihat
tonjolan besar di balik celananya.
“Mandi dulu Tuan, nanti masuk
angin..” si Bibi tiba-tiba menyela dari
belakang.
“Iya Pak, lagian Ibu lagi enggak ada,
entar siapa yang ngerokin!”
“Kan ada kamu!” Pak Arman tertawa
mendengar gurauanku, tetapi
kemudian ia segera berlalu ke kamar
mandi.
Tak lama terdengar suara guyuran
air. Tiba-tiba aku membayangkan
bagaimana keadaan Pak Arman
waktu bugil, memikirkan itu
kemaluanku langsung mengeras.
Malam itu sama sekali aku tidak
dapat tidur. Entah kenapa tubuh Pak
Arman yang basah terus terbayang di
mataku. Busyet! Kenapa jadi begini?
Untung acara TV malam itu lumayan
bagus, jadi aku dapat sedikit
mengesampingkannya.
“Belum ngantuk, To?”
Aduh, suara itu lagi.
“Eh, belum Pak..!”
Aku sedikit gerogi ketika Pak Arman
duduk di pinggirku, padahal dulu-dulu
tidak seperti ini.
“Acaranya bagus?” Pak Arman
menatapku, oh Tuhan matanya
begitu teduh.
“Lumayan Pak, buat nyepetin mata
yang enggak bisa di ajak kompromi..”
Sesaat suasana hening.
“Bapak juga kok enggak tidur..?”
kucoba memecahkan suasana,
“Kangen Ibu, ya?”
Pak Arman tersenyum.
“Saya sudah biasa di tinggal istri, To..”
“Sorry, Pak..”
Aku jadi merasa tidak enak sendiri.
Malam semakin larut dan udara
makin terasa dingin, dan kami masih
asyik nonton TV, walaupun pikiran
saya tidak tertuju kesana.
“To, Kepala saya agak pusing.., mau
enggak kamu pijitin kepala saya..?”
Aduh saya benar-benar tidak tahu
harus berbuat seperti apa. Pak Arman
terus menatapku.
“I.., iya Pak..!” ujarku sedikit gugup.
Aku kemudian berdiri.
“Mau kemana?”
“Mijitin kepala Bapak..”
“Udah kamu duduk disitu aja..”
Tanganku ditariknya kembali ke kursi
panjang.
Sungguh aku tak mengerti. Aku
kemudian duduk kembali dan tiba-
tiba Pak Arman merebahkan
kepalanya di pangkuanku. Sungguh
saat itu aku tidak dapat
mengendalikan lagi denyut
jantungku.
“Di sini, To..” Pak Arman memegang
tanganku dan kemudian diletakkan di
keningnya.
Untuk sesaat aku terpaku dan
kemudian dengan sedikit gemetar
memijat keningnya. Kulihat Pak
Arman memejamkan matanya.
Dengan takut dan ragu-ragu
kuperhatikan wajahnya. Sungguh
sangat sempurna. Alis yang rimbun,
hidung yang bangir, kumis tebal dan
kaku, dagu yang terbelah.., oh Tuhan
aku nyaris tak dapat mengendalikan
diri.
“Oh, Nikmat sekali, To..” Pak Arman
mendesaah perlahan.
“Aku jadi ngantuk, boleh tidur disini
dulu enggak? Entar kalau acaranya
selesai, bangunkan ya!”
“Ya, Pak..”
Entah mimpi apa aku semalam bisa
berduaan seperti ini dengan Pak
Arman. Aku tidak akan menyia-
nyiakannya. Tetapi kulihat Pak Arman
tidak juga memejamkan matanya.
“Kenapa, Pak? Katanya mau tidur?”
Pak Arman terus menatapku, aku
jadi salah tingkah.
“Aku teringat, Diko. Sudah 5 bulan
aku tidak ketemu dengannya.”
“Dia kan sedang kuliah, Pak..”
“Waktu kecil dia selalu kupangku
seperti ini sambil kubelai rambutnya.
Tak terasa anak-anak begitu cepat
besar.”
Kulihat mata Pak Arman
menerawang.
“Waktu mereka masih ada, aku tak
begitu merasa kesepian seperti
sekarang, tapi ya begitulah tugas
orang tua, memang cuma
membesarkan dan mendidik anak,
setelah itu.. Aku bersyukur ketika
kemudian kamu kost disini,
setidaknya rumah ini tidak begitu
sepi lagi.”
Aku begitu terharu mendengar kata-
kata Pak Arman, begitu menyentuh.
Dan tak terasa tanganku bukan lagi
memijat, tapi telah membelai rambut
Pak Arman. Pak Arman
memejamkan matanya sepertinya ia
menikmati semuanya.
“Semua orang tua mungkin pernah
merasakan hal yang sama seperti
Bapak..” aku mencoba menghibur,
“Dan kalau Bapak mau, saya siap
untuk menjadi teman bicara Bapak,
kapan saja, asal Bapak tidak merasa
kesepian..”
Pak Arman membuka matanya.
Dipegangnya tanganku.
“Sungguh..?”
Aku menganggukan kepalaku. Pak
Arman tersenyum, kemudian ia
mencium tanganku.
“Thanks..” katanya manis.
Ya Tuhan, dadaku seakan mau
meledak merasakan hangatnya bibir
Pak Arman disertai gesekan
kumisnya di tanganku. Aku bingung
harus berbuat apa. Pak Arman
tersenyum melihatku, kemudian ia
meletakan tanganku di pipinya.
Sejenak aku terpaku. Perlahan
kemudian kubelai pipinya yang kasar.
Pak Arman memejamkan matanya.
Aku terus membelainya, merasakan
jambangnya yang belum dicukur.
Aku penasaran sekali dengan
kumisnya.
“Kumis Bapak bagus..”
“Kamu suka..?”
“Ya, kelihatannya gagah..”
Dengan ragu kubelai kumis Pak
Arman. Ia tetap diam seperti sedang
menikmati semuanya. Bibirnya
tampak sedikit merekah, begitu indah
dan merangsang, serasi sekali
dengan kumisnya yang tebal. Aku
sudah tak dapat menahan diri lagi.
Perlahan kubelai bibir itu dengan
gemetar.
Sebenarnya aku takut dianggap tidak
sopan, tapi kulihat Pak Arman tidak
ada reaksi apa-apa. Aku semakin
berani. Pak Arman kulihat semakin
membuka bibirnya dan tanpa
kuduga, tiba-tiba ia mencium jariku
dan kemudian menghisapnya dengan
perlahan. Aku begitu terpana.
Matanya terbuka, ia tersenyum manis
kemudian bangkit dari pangkuanku.
Dipegangnya bahuku.
“Aku ingin tidur bersama kamu..”
Direbahkannya tubuhku di kursi yang
sempit. Ia kemudian ikut tidur sambil
memeluk tubuhku. Aku teramat
merasakan kepadatan tubuhnya
yang membuatku semakin nafsu. Ia
membelai rambutku. Aku tatap
matanya, ia tersenyum, didekatkan
kepalanya dan tiba-tiba ia mencium
bibirku. Lembuut sekali. Aku
memejamkan mata meresapi sensasi
yang begitu indah. Ketika kubuka
mataku ia sedang menatap wajahku,
kemudian dielusnya pipiku, alisku,
bibirku, dan kemudian ia menciumku
lagi lebih lama. Bibirnya terasa manis,
kurasakan lidahnya menelusup di
rongga mulutku. Aku merasakan
nikmat yang amat sangat, apalagi
kumisnya begitu kasar. Kucengkeram
punggungnya dengan kuat, nafasku
semakin memburu.
Pak Arman benar-benar ahli, aku
yang baru pertama kali
mengalaminya seperti orang meriang.
Pak Arman tiba-tiba melepaskan
ciumannya, ia menatapku dengan
mesra.
“Kamu menyukainya, To..?”
Ya ampun.., kenapa dia harus
bertanya seperti itu, sementara
nafsuku semakin membuncah. Aku
menganggukan kepala seraya
membelai lehernya.
“Ini yang pertama, Pak..”
Aku mendekatkan lagi bibirku dan
dengan ganas kembali kulumat bibir
jantannya. Kutindih tubuhnya dengan
nafsu.
“Jangan disini, To..”
Aku menghentikan aksiku. Pak
Arman bangkit. Dimatikannya TV,
kemudian ia mencium keningku
sebelum membopongku ke
kamarnya. Aku terpekik sejenak, tapi
langsung kupeluk leher Pak Arman
sambil kucium dadanya. Pak Arman
tertawa kecil.
Sesampainya di kamar, dengan
perlahan direbahkannya tubuhku.
Sambil menindihku Pak Arman terus
menatap mataku dengan mesra, aku
sampai tersipu. Kupeluk tubuhnya
sambil kugigit lehernya, Pak Arman
sampai terpekik.
“Wah, kamu mirip drakula..” Pak
Arman terus menggodaku.
“Tapi drakula amatir..” balasku.
Pak arman tersenyum. Dipijatnya
hidungku.
“Nih kalau yang profesional!”
Tiba-tiba Pak Arman telah mencium
leherku dengan gigitan-gigitan
kecilnya. Aku terlonjak, geli tapi
nikmat, apalagi kumisnya terasa
sekali menusuk-nusuk leherku.
Aku mengerang sambil menjambak
rambutnya. Aku benar-benar tak
kuat. Kakiku langsung kubelitkan di
tubuhnya sambil menggeliat-geliat
dengan liar. Pak Arman semakin
bernafsu. Kini ia telah membuka
bajuku, dijilatinya dadaku. Aku
menjerit, benar-benar sensasi baru
yang teramat indah. Aku semakin
mempererat pelukanku, apalagi saat
Pak Arman mengulum puting susuku,
tubuhku sampai melengkung
menahan kenikmatannya.
“Pak Arman, oohh..”
Pak Arman seperti tidak perduli
dengan keadaanku, ia semakin buas.
Tak lama kemudian tubuhku telah
telanjang bulat, dan ia benar-benar
membuatku tak berkutik. Ketika ia
membuka bajunya, aku benar-benar
terpana melihat tubuhnya yang
masih berotot dengan bulu-bulu yang
membelukar, membuatku semakin
tak kuat, apalagi saat ia membuka
celana dalamnya, oh.., batang
kejantanannya begitu besar dan
kaku. Aku sampai ngeri sendiri.
Ia kembali menghampiriku dengan
nafasnya yang memburu. Aku
menyambutnya, kupeluk tubuhnya
yang besar. Kubelai punggungnya
sambil kuresapi ciumannya.
Tangannya begitu nakal, dibelainya
pahaku secara perlahan, dan
kemudian bergeser ke arah batang
kemaluanku yang tidak begitu besar.
Aku pun tidak mau kalah, kuremas
kejantanannya yang seperti
pentungan hansip, Pak Arman
mendesah. Aku kemudian
melepaskan diri dari pelukannya.
Kuciumi batang kejantanan yang
begitu gagah, desahan Pak Arman
makin keras. Di ujung kejantanannya
yang hitam terlihat mulai keluar
cairan bening, aku langsung
menjilatinya, terasa asin tapi nikmat.
Setelah itu langsung kukulum
batangnya.
“Ohh.. nikmat sekali, To! Terus, To!”
Pak Arman mencengkram kepalaku.
Aku semakin bersemangat, terus
kukulum kejantanan itu sambil
kumainkan lidahku di ujungnya, dan
terkadang kugigit pelan karena
gemas. Kemaluan Pak Arman begitu
perkasa. Pak Arman terus
mencengkram kepalaku. Bosan
dengan itu kuciumi lipatan paha Pak
Arman, ooh.. terasa sekali bau
kelelakiannya. Lama juga aku
bermain di situ, kemudian pelirnya
kucium dan kukulum, sementara
tanganku bermain di anusnya yang
dipenuhi bulu. Aku mencoba
memasukkan telunjukku, terasa sulit,
tapi lama-lama bisa juga.
“Terus, to.. oh.., nikmat sekali..” Pak
Arman semakin menggelinjang.
Kemudian kubalikkan tubuh Pak
Arman. Kubelai pantatnya yang
gempal, kucium dan terkadang
kugigit. Oh.. nikmat sekali. Perlahan
kubuka bongkahan pantatnya,
kemudian kusibakkan bulu-bulunya
yang lebat, terlihat anusnya yang
mungil kemerahan seakan
menantangku untuk mengulumnya.
Langsung saja kujilati anusnya,
desahan Pak Arman terdengar
semakin keras, apalagi saat lidahku
masuk ke lubangnya dan kemudian
menghisapnya. Anusnya terasa
harum sekali, sungguh aku sangat
menyukainya.
“Oh.., Anton, Bapak enggak kuat
lagi..”
Tiba-tiba Pak Arman membalikkan
tubuhnya, dan kemudian
membantingku ke kasur. Diciumnya
leherku dengan ganas.
“Boleh, Bapak ngentot kamu..?” ia
menatapku dengan harap.
Aku menganggukan kepalaku. Pak
Arman langsung berdiri, kemudian ia
menundukkan kepalanya di
selangkanganku, kakiku ditariknya
dan kemudian dijilatinya anusku. Oh
Tuhan nikmat sekali, apalagi
kumisnya kuat sekali menggesek-
gesek kulitku.
Tak lama ia mengangkat kakiku,
kemudian diletakkannya di
pundaknya, batang kejantanannya
terasa sekali menyentuh anusku.
Sesaat aku merasa ngeri
membayangkan batang kejantanan
Pak Arman yang besar membobol
anusku yang kecil, tapi nafsu telah
mengalahkan segalanya. Pak Arman
sendiri tampaknya kesulitan
memasukkan kejantanannya. Ia
kemudian memakai ludahnya untuk
dijadikan pelumas, tak lama batang
itu mulai masuk, aku menjerit
kesakitan.
“Tahan dulu Sayang, Nanti juga tidak
sakit..”
Aku menganggukan kepalaku.
Batang kejantanan Pak Arman makin
masuk dan aku makin kesakitan. Pak
Arman kemudian menciumbibirku
sambil terus memasukkan
kemaluannya. Ketika semuanya telah
masuk, jeritanku semakin keras.
Kemudian kugigit lehernya. Aku
menangis kesakitan. Pak Arman diam
sejenak, mencium bibirku, menjilati
leherku dan mengulum telingaku.
Sejenak aku melupakan rasa sakit
itu. Ketika aku tidak menjerit lagi, ia
mulai menggerakan batang
kejantanannya. Kembali aku
menangis kesakitan.
“Sabar Sayang.., nanti juga kau akan
merasakan nikmat..” Pak Arman
berusaha menghiburku sambil terus
memberiku rangsangan-rangsangan.
Memang benar apa yang dikatakan
Pak Arman, lama-lama aku
merasakan nikmat juga. Perlahan
kuimbangi gerakan Pak Arman
sambil kubelai punggungnya yang
liat. Keringat Pak Arman tampak
sudah membanjir.
“Terus Pak.., terus..!” Aku semakin
merasa keenakan.
Kupeluk tubuh Pak Arman makin
erat, kucium ketiaknya dan kugigit
lengannya.
“Oh.., anusmu nikmat sekali,
Sayang..”
Gerakan Pak Arman semakin liar,
digigitnya leher dan dadaku hingga
membekaskan noda merah. Terasa
sekali batang kejantanannya dengan
kuat menyodok-nyodok anusku.
“Gimana Sayang.., apakah masih
merasa sakit..?”
“Enggak Pak, nikmat sekali..”
Kugigit puting Pak Arman yang
berwarna kemerahan. Kusedot-sedot
hingga gerakan Pak Arman semakin
cepat. Pantatnya yang gempal
kembali kubelai, kuremas dan kubelai
bulu kemaluannya sambil
memainkan anusnya. Sesekali jariku
menusuk-nusuk anusnya.
“Aku tak kuat lagi Anto..”
Tubuh Pak Arman tampak gemetar,
kemudian ia memelukku dengan erat
sambil menggigit dadaku. Dan
kurasakan denyutan keras di anusku
disertai semburan hangat.
Ketika semuanya reda, Pak Arman
tetap memelukku, kubelai dan
kuseka keringat di wajahnya.
Kemudian kembali kubelai
rambutnya. Pak Arman memejamkan
matanya.
“Terima kasih Sayang, aku puas
sekali..!”
Diremasnya pundakku tanpa
membuka matanya.
“Kamu ingin juga dikeluarkan..?” tiba-
tiba Pak Armani membuka matanya
dan menatapku.
Aku menggelengkan kepala, “Enggak
usah sekarang, Pak..” aku tersenyum,
“Aku hanya ingin membahagiakan
Bapak..”
Pak Arman kemudian mencium
pipiku dengan mesra.
“Lebih menyenangkan memeluk
Bapak seperti ini..”
Kembali kurengkuh tubuh itu dengan
kuat, kubelai sampai kemudian Pak
Arman tidur di dadaku. Oh.., bahagia
sekali rasanya hatiku, dan ini bukan
mimpi.
Kami terus melakukan hal itu sampai
saya lulus dari SMA, dan kemudian
kuliah di luar kota. Sejak itulah kami
jarang bertemu, tapi saya akan terus
mengingat Pak Arman, karena saya
amat mencintainya. Dan entah
mengapa sejak saat itu saya lebih
bernafsu dengan melihat tubuh
cowok yang lebih dewasa atau
bapak-bapak. Untuk teman-teman
yang ingin menjadi sahabat saya,
dapat menghubungi saya.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
TAMAT,,,,,,,,,,
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Bagikan ke Pinterest

Related posts