Antara Ronald dan Kayla Natalia Haman

 

Kisah Antara Ronald dan Kayla Natalia Haman

“Aduh, kok tiba-tiba kempes ya?”, kata seorang pria yang menaiki sepeda motor Honda Supra X. “Mas periksa dulu ya…”, kata pria yang terlihat berwajah rupawan itu turun dari motor untuk memeriksa ban motornya. Seorang gadis berambut panjang lurus diboncengnya, manis dan cantik, perawakannya mirip artis ataupun model. “Waduh, kena paku…”, kata pria itu. “Kita jalan kaki saja mas, sudah gelap nih, tak mungkin menunggu orang lewat…”, saran gadis itu ikut turun dari sepeda motor.
Pria itu pun kemudian mendorong motornya, ditemani sang gadis yang berjalan di samping, mereka berbincang sambil terus berjalan ke depan. “Sorry nih… Kayla sudah lapar?”, tanya pria itu. “Belum mas… Kalau ke malaman, kita singgah warung terdekat saja mas buat makan…”, jawab gadis itu. “Tapi rasanya dekat-dekat sini tak ada warung makan…”, ujar pria itu. “Kalau gitu kita mesti tahan lapar sampai menemukan bengkel mas”, balas gadis itu dengan senyum yang manis.
“Nah, sana ada gubuk… Kita coba singgah ya liat apa ada orang yang bisa membantu”, kata pria itu sambil menunjuk sebuah gubuk di tengah semak-semak yang dari jendela nampak lampu yang cukup remang. “Boleh mas, siapa tau kita bisa pinjam motor untuk sementara pulang”, jawab gadis yang tadinya dipanggil Kayla. Pria itu menurunkan standar motornya, ia meninggalkannya di depan jalan setapak menuju gubuk itu.
‘Tok! Tok! Tok!’ suara ketukan pintu. Lalu pintu pun terbuka, nampak dua orang pria keluar dari pintu sambil bertanya, “Maaf, cari siapa ya?”. Pria dan gadis yang tadi ingin meminta bantuan pun langsung berkata, “Eng… Kami butuh motor… Besok kami kembalikan ya…”. Dua pria itu mengerutkan jidat, sambil menatap gadis bernama Kayla itu, mereka pun membalas, “Apa bisa dipercaya?”, tanya salah satu pria di balik pintu. Mereka mungkin takut motornya dilarikan, namun pria yang bersama gadis itu pun meyakinkan, “Saya sewa saja ya… Ini uangnya dan kalau tidak percaya, ini saya tinggalkan KTP…”, kata pria itu sambil mengeluarkan uang dan KTP dari dompetnya.
“Ronald?”, pria di balik pintu membaca KTP yang ia dapat dari pria itu, sedangkan satu pria lagi sedang menghitung uang yang diberikan berupa pecahan seratus ribu sebanyak beberapa lembar. “Oh… Kamu orang luar ya? Dokter yang magang di puskesmas?”, tanya pria itu ternyata mengingat pria yang ingin menyewa motornya karena membaca KTP orang itu. “Iya… Apa kita pernah bertemu?”, tanya pria yang bernama Ronald itu sedikit heran. “Masuklah…”, ajak satu pria lagi yang tadinya menghitung uang. Kayla sedikit bingung, nampaknya ia pernah melihat ke dua orang ini, namun ia lupa di mana berjumpa. Sedikit gelagat aneh dari dua pria itu, Kayla sangat khawatir, namun ia terpaksa masuk ketika Ronald juga ikut masuk ke dalam gubuk.
“Sudah malam, saya traktir minum di sini dulu ya…”, kata pria yang tadi mengajak masuk. Sedangkan pria yang memegang KTP cepat-cepat mengemas beberapa botol yang ada di meja. Kayla melihatnya, itu adalah botol bir, sepertinya kedua pria itu tadinya sedang berpesta miras. “Mas, kita pergi saja yuk dari sini”, ajak Kayla. “Iya Kayla, tunggu kita ambil motornya dulu ya…”, jawab Ronald. “Pak dokter bayar uang sewanya kegedean, saya traktir minum sebagai pengganti ya…”, kata pria yang tadi masuk untuk membereskan botol, dan kini ia keluar dengan beberapa gelas air yang berwarna kuning seperti sirup orange.
“Oh tidak apa-apa, kami butuh motornya, besok pagi-pagi pasti saya kembalikan…”, jawab Ronald memaksa meminta motornya. “Pak dokter sudah banyak berjasa di kampung kita, masa kita traktir minum sebagai balas terima kasih saja, pak dokter menolak?”, singgung pria satunya. “Maaf, kita lagi buru-buru…”, jawab Kayla dengan nada yang cukup tegas. Dua pria itu memandangi gadis itu dengan pandangan yang sedikit aneh, entah karena kecewa atau apa, namun mereka akhirnya melepaskan Ronald dan Kayla. “Nih kuncinya…”, satu pria menyerahkan kunci motor kepada Ronald sambil menunjuk ke arah motor Yamaha RX-King yang terparkir di dalam pondok. “Thanks”, kata Ronald lalu tanpa mau dibantu, ia sendiri berusaha mendorong motor itu keluar dari pondok.
‘BUKK!’ ‘BUKK!’, Ronald dan Kayla langsung terjatuh ketika kedua pria itu memukulnya dari belakang. Ronald langsung jatuh tertimpa motor, mereka tidak menyadari kalau dua pria itu tidak akan melepaskan mereka.
Dua pria itu segera memberesinya, gubuk kecil dan sedikit reot itu segera di gelar tikar. Satu pria lalu mengikat Ronald dan Kayla, sedangkan satunya lagi kembali ke belakang untuk mengeluarkan kembali minumannya. “Pesta lanjut bro”, katanya dengan senyum kegirangan. “Iya nih, kali ini kita pesta bakal ditemani cewek cantik ini”, balas pria satunya yang sedang mengikat Kayla. “Hahahaha, gue ga sabar nih bro buat ngentotin tuh cewek”, balas kawannya sambil menengguk bir langsung dari botolnya.
Ronald dan Kayla terikat kuat, mereka dipisahkan, Ronald dibiarkan pingsan di pojok sana, sedangkan Kayla ditaruh di tengah. Dua pria itu mulai duduk lesehan di lantai sambil memandangi Kayla yang terikat, mereka meminun bir mereka. “Cantik ya bro…”, kata satu pria membelai wajah sang gadis yang belum sadarkan diri. Satu prianya pun mulai ikut meraba gadis itu, “Iya nih, masih muda lagi”, katanya.
Mereka pun membuka resleting celana mereka dan mengeluarkan penis mereka dari balik celana. “Si otong nih sudah ga sabaran pengen nikmati nih cewek…”, satu pria mengocok penisnya sendiri yang telah mengeras. “Hahaha…”, ketawa temannya yang juga ikut mengocok penis miliknya sendiri. Mereka berpesta miras sambil memandang gadis tak berdaya itu, sambil meremas penis mereka juga membelai tubuh gadis itu.
“Hmm…”, terdengar suara rintihan, ternyata sang gadis mulai tersadar. “Apa-apaan ini?!”, tanya gadis yang masih lemah itu. Ia tak bisa bangkit karena tangan dan kakinya terikat. “Sudah sadar rupanya… Hahaha…”, kata satu pria lalu dilanjutkan, “Baguslah, bisa kita nulai lebih cepat…”. “Mau apa kalian?!”, tanya Kayla. “Lu liat cowok lu di sana?”, tanya pria satunya, “Gue bakal bunuh dia kalau lu ga turuti kemauan kita!”, ancamnya.

“Dia… dia… dia bukan cowok saya… Kami baru kenal beberapa hari…”, jawab Kayla. “Gue ga mau tau dia siapanya lu, yang jelas gue bakal bunuh kalian berdua kalau melawan!”, ancamnya sambil memecahkan botol bir kosong ke lantai. “Gue ga kenal kalian, tolong lepasin saya!”, pinta Kayla memohon. “Kamu pasti kami lepaskan, kalau memang menuruti kemauan kami…”, kata pria itu. “Oke, apa mau kalian?!”, tanya Kayla dengan kesal. “Oi bro, lu mau apakan dia?”, tanya pria itu kepada temannya. “Pertama-tama gue mau dia sepongin penis kita…”, kata temannya itu sambil menunjukkan penisnya. Kayla terkaget karena sedari tadi tidak menyadari kedua pria itu sedang menjulurkan penisnya keluar dari celana. “Tidak! Saya mohon, lepaskan saya…”, pinta Kayla ketakutan.
“Ayolah… Kita bakal lepasin lu kok kalau memang menurut..”, kata satu pria sambil mendekatkan penisnya ke wajah Kayla. “Tapi kalau melawan sih udah pasti kita bunuh…”, lanjutnya dengan nada mengancam.
Kayla mulai menangis, ia ingin berteriak, namun keadaan tak mungkin, jangankan berlari, kondisinya kini tak memungkinkan, berdiri saja tak bisa. Dengan mata berderai air mata, Kayla terpaksa membuka mulutnya dan membiarkan penis itu masuk. Ia hanya bisa pasrah, terbaring di lantai dengan beralaskan tikar, lalu dua pria itu mulai bergantian memberikan penis ke mulutnya dari arah atas dengan cara berjongkok tepat di atas leher Kayla.
“Ooo…. Sedapp sepongannya…”, kata pria yang sedang disepong Kayla itu. Kayla terus menangis, namun apa daya, hanya itu yang bisa dilakukannya. Sedangkan Ronald masih pingsan disudut ruangan. Satu pria masih asyij meminum minuman keras, namun segera ia tinggalkan ketika satu temannya puas disepong oleh Kayla, mereka pun bergantian. Hingga cukup lama, mereka mulai bosan, mereka masih memaksa Kayla membuka lebar mulutnya, lalu kedua pria itu menuangkan bir ke mulut Kayla. “Uhuk uhuk!”, Kayla terbatuk-batuk ketika dipaksa untuk meminum bir itu, ia tidak pernah mencicipi minuman beralkohol itu sedikit pun. “Mau minum ini apa minum sperma kita?!”, tanya satu pria dengan mata yang melotot, “Kalau lu ga mau minum bir, berarti lu pilih minum sperma dong?”, sambungnya.
Kayla tidak bisa minum bir, mencium baunya saja sudah terasa mau muntah. Namun karena dipaksa, ia mencoba menelannya sedikit demi sedikit. Dua pria itu mengucurkan birnya dengan cepat, banyak memenuhi kerongkongan Kayla hingga ia termuntah. “Sial, dia menyia-nyiakan bir kita!”, lalu mereka menampar Kayla karena marah. “Baiklah, konsekuensinya, lu harus minum sperma kita!”, kata satu pria lalu kembali lagi ia memasukkan penisnya ke mulut Kayla yang manis itu. Kayla terus menangis, ia semakin takut ketika dua pria itu berkata, “Sepong sampai sperma kami keluar, dan telan! Atau kita bunuh?!”.
“Uhuk… uhuk…”, terdengar suara dari sudut sana, ternyata Ronald sudah sadar. “Hei, lepaskan dia!”, teriak Ronald. “Wah cowoknya sudah bangun tuh…”, kata pria yang menunggu giliran disepong. Pria itu lalu mendekati Ronald sambil berkata, “Terima kasih ya sudah serahin pacar lu ke kita-kita, hahaha…”, ejeknya sambil menatap Ronald. “Iya, selain ngasih duit tadi, dia ngasih ceweknya juga, hahaha…”, balas temannya yang sedang disepong Kayla. “Tenang aja, kalau lu juga mau disepong, tar kita minta cewek lu sepongin juga…”, kata pria yang tadi mendekati Ronald sambil menampar-nampar kecil di pipinya.
“Tolong lepasin dia… Lu mau apa aja tar saya kasih…”, pinta Ronald. “Kami cuma mau lu diam, ga ada yang lain!”, jawab kesal pria itu, “Sekaliblagi gue dengar suara lu, gue bunuh cewek itu!”, ancamnya. Ronald dengan sangat terpaksa harus menutup mulutnya.
“Ayo ditelen…”, kata pria itu setelah berejakulasi karena sepongan Kayla. “Hiks hiks hiks”, rintihan Kayla yang dengan sangat terpaksa menelan semua sperma yang dikeluarkan pria itu di dalam mulutnya. “Giliran lu bro…”, ia bangkit dan memberikan posisinya kepada temannya. Sama seperti yang tadi, Kayla dipaksa lagi untuk menyedoti penisnya, harus sampai berejakulasi, atau tidak akan dilepaskannya.
Beberapa menit berlalu, kedua pria itu sudah berhasil memaksa Kayla untuk menelan semua sperma mereka. Kayla masih menangis, dua pria itu sementara membiarkan Kayla terbaring di lantai. Mereka kembali berpesta miras sambil memandangi Kayla yang tak berdaya.
“Wah habis bro…”, botol-botol sudah kosong semua. “Payah, stok juga sudah ga ada…”, jawab satu pria lagi. “Hmm…”, mereka kebingungan karena tidak ada lagi minuman. “Hehehe, kita minum susu aja, mau ga?”, ujar kawannya sambil memandangi Kayla dengan wajah seperti kelaparan. “To… tolong jangan… Saya tidak punya air susu…”, kata Kayla. Tentu saja, air susu hanya dipunya untuk wanita yang menyusui, sedangkan Kayla masih muda dan belum menikah.
Mereka tidak memperdulikannya, lalu mereka membuka baju Kayla dengan sedikit menariknya ke atas sehingga nampak bra Kayla yang menutupi payudaranya. “Cakep bro, pasti segar susunya..”, olok kawannya lalu dengan segera menggeser bra Kayla ke atas hingga nampaklah ke dua buah susu anak gadis itu. “Waw, indahnya…”, mereka melihat bukit kembar itu dengan wajah yang seperti meneteskan air liur. Susu putih milik Kayla itu lalu diremas kedua orang itu. “Lihat, putingnya kecil..”, kata satu pria.
Mereka bukan saja meremas dan memainkan puting Kayla; mereka juga menyedotinya. “Hiks hiks hiks”, tangis Kayla yang tak berdaya membiarkan buah dadanya yang belum pernah disentuh pria itu harus menjadi mainan ke dua orang itu. Kejadian itu berlangsung cukup lama, Ronald pun mulai menikmati tontonan itu, baginya melawan bukan solusi, ia memilih menonton adegan itu dengan tetap diam.

Malam sudah cukup larut, kedua pria itu sudah kerasukan nafsu setan, apalagi di bawah pengaruh alkohol, akhirnya mereka ingin segera memulai sesuatu yang sedari tadi mereka tunggu-tunggu. Dua pria itu mulai melepaskan pakaian mereka, baju kaos yang sedikit lusuh itu mereka lempar ke lantai. Kayla kaget melihat itu, ia coba menggelengkan kepala sambil menangis ia pun memohon ampun, “Tolong jangan apa-apain saya…”. Kedua pria itu tidak memperdulikannya, malahan sambil melepas ikatan Kayla, mereka mengancam, “Kalau ingin pulang hidup-hidup, jangan coba-coba melawan!”.
Ronald nampaknya mulai luluh, ia tak mungkin membiarkan Kayla diperkosa oleh kedua pria itu, “Woi, bajingan! Lepasin dia!”, teriaknya. Satu pria lalu memandang ke arah Ronald, sedangkan satunya lagi mulai melepaskan pakaian Kayla setelah ikatannya terlepas. “Diam lu, jangan banyak bacot!”, kata pria itu mendekati Ronald, lalu ia mengambil kain untuk menutup mulut Ronald. “Perhatikan baik-baik ya cara kita ngentot, biar lain kali lu bisa praktekin sama cewek lu ini… Hahahaha…”, ejek pria tadi sembari menarik Ronald hingga ke tengah agar Ronald lebih dekat dengan Kayla.
Kayla terus berontak, pria satunya coba melepaskan pakaiannya, hingga pria itu marah dan mulai memukuli Kayla. Pria yang tadi menarik Ronald kini membantu kawannya untuk melepaskan pakaian Kayla. Tangannya ditangkap, lalu satu pria dengan mudah menarik baju dan celananya hingga lepas. Kayla menangis ketakutan, apalagi kini ia tidak mengenakan sehelai pakaian pun. “Sial, mulus banget nih cewek…”, ujar satu pria memandangi Kayla dengan wajah yang seperti serigala kelaparan.
“Lihat baik-baik…”, kata satu pria kepada Ronald sambil menampar-nampak kecil di pipinya. Ronald tidak bisa berbicara, mulutnya tersumpal kain, seperti kain lap atau sejenisnya, sedikit kotor memang. Satu pria mulai menindih Kayla yang bugil, “Hiks… hiks… Saya mohon jangan perkosa saya…”, pinta Kayla. Pria satunya lagi mencengkram kepala Ronald agar Ronald memandang ke arah Kayla. “Lihat! Kalau lu merem, gue bunuh tuh cewek!”, ancam pria itu.
Pria yang tadi menindih Kayla mulai menciumi Kayla, dibelai rambutnya, lalu diciumi bibirnya hingga ke leher dan menuju ke payudara kecilnya. “Cantik banget lu… Malam ini lu bakal jadi milik kita…”, katanya. Lalu perlahan pria itu mulai menyodokkan penisnya ke vagina Kayla. “Wah, masih seret nih…”, katanya sambil memandang ke arah penisnya agar lebih mudah menuntunnya masuk ke lubang vagina Kayla yang sekitarnya tumbuh jembut-jembut tipis dan pendek.
Pria satunya menunggu giliran sambil mengocok penisnya sendiri, ia duduk di samping Ronald, mereka memperhatikan adegan nyata itu di depan mata mereka. “Lu ga nafsu?”, olok pria itu kepada Ronald. Ronald tidak bisa bicara, ia cuma menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ia tidak menerima semua perlakuan ini. “Nih gue kasih hadiah…”, kata pria itu lalu mendorong Ronald lebih dekat. Pria itu membuka paksa resleting celana Ronald, tanpa rasa jijik sedikit pun pria itu mengeluarkan penis Ronald dari celananya. “Hahaha, penisnya ngeras bro… Rupanya dia nafsu lihat pacarnya diperkosa, hahahaha…”, oloknya lalu pria itu lalu menarik tangan Kayla untuk diarahkan ke penis Ronald.
Kayla ketakutan, ia menangis tiada hentinya. Tubuhnya berguncang hebat karena sodokan penis preman itu, sedangkan satu tangannya harus disibukkan dengan mengocok penis Ronald. “Tuh asyikkan dikocokin sama cewek sendiri…”, ejek pria yang belum mendapati giliran. “Kalau dia mau kentot nih cewek, tar kita kasih kesempatan, tapi tunggu kita puas ya, hahaha”, olok pria yang sedang menggagahi Kayla.
“Hiks hiks hiks”, Kayla terus menangis, air matanya bercucuran tiada henti. Ronald hanya bisa menutup matanya, ia tak sanggup melihat keadaan ini, namun ada sedikit sensasi yang bisa ia nikmati, kocokan di penisnya membuat Ronald sedikit merasakan kesenangan.
“Ah…”, desah pria yang mendesah karena sudah berejakulasi di vagina Kayla. “Nikmat banget cewek lu bro…”, kata pria itu memandang ke arah Ronald sambil menarik keluar penisnya. Lalu pria satu segera menggantikannya, seperti piala bergilir, kini Kayla harus digagahi satu pria lagi. Pria itu membalikkan posisi Kayla, “Kita main kuda-kudaan…”, katanya sambil menarik bokong Kayla, lalu disodoknya dari belakang.
“Wuih, mantap banget nih…”, kata pria itu menggenjot Kayla, sedangkan pria yang tadi baru saja selesai memperkosa Kayla kini menarik Ronald agar berlutut di depan Kayla. “Sekarang sepong nih punya cowok lu!”, perintah pria itu meminta Kayla menyepong penis Ronald. Ronald coba geleng-geleng agar Kayla tidak melakukannya. “Eh, cari mati lu ya?”, ancam pria itu karena Kayla tidak mau menyepongkan penis Ronald.
“Pokoknya gue mau lu sepongin cowok lu ampe spermanya abis lu telen… Kalau ga, gue bunuh kalian berdua…”, ancamnya lagi yang membuat Kayla langsung saja menuruti. Ronald tak mampu melihat penderitaan Kayla, ia menutup matanya membiarkan penisnya dilayani bibir Kayla yang seksi. “Nah, ngaman ndak dilayani pacar sendiri? Hahahaha…”, ejek pria itu lalu duduk diam memperhatikan aksi temannya menggenjot Kayla.
Tubuh Kayla maju mundur karena sodokan pria itu, ia harus menyeimbangkan diri agar tidak jatuh, bertumpu pada lutut dan kedua tangannya, bagaikan anjing yang sedang menjilati sebuah sosis, Kayla menyepong penis Ronald dengan pelan.
Beberapa menit Ronald berejakulasi, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti tidak mau ini terjadi. “Telan!”, teriak pria yang menggenjotnya dari belakang sambil memukuli pantatnya. Kayla terpaksa menelan sperma Ronald hingga habis, Ronald merasa bersalah, ia mundur dan terjatuh karena lelah, ia mencoba mengistirahatkan diri.
Beberapa menit giliran pria yang menyetubuhi Kayla dengan gaya doggie itu yang berejakulasi. Ia mendesah kenikmatan lalu mencabut batang penisnya dan roboh pas di belakang Kayla. Ia mengistirahatkan diri sejenak. Kayla pun sudah terlihat lelah, ia tak mampu terjaga, pria yang mendapat giliran pertama tadi sudah kembali mengumpulkan tenaga, ia bangkit dan kembali ke arah Kayla yang sudah tak sadarkan diri.
Malam itu Kayla kembali diperkosa untuk ke dua kalinya oleh pria itu, sedangkan Ronald dan teman preman satunya sudah terlelap. Kayla tak sadarkan diri, tubuhnya leluasa menjadi mainan satu pria itu. Ia menggenjotnya dan mencicipi seluruh tubuhnya.

***
Semua itu bermula dari sebuah kisah yang belum diketahui oleh siapa pun.
***
Mereka adalah Boncel dan Wowok, pemuda yang di masa remajanya telah putus sekolah karena sedikit kenakalan mereka. Mereka pemuda yang bisa dibilang sebagai preman jalanan ini belum terendus pihak kepolisian. Pekerjaan yang rapi sehingga sepak terjang mereka tidak banyak yang tahu, kecuali sang korban. Selain mencuri, mereka juga suka melakukam aksi pemerkosaan. Target mereka bukan gadis sembarangan, mereka lebih mengincar gadis baik-baik, muda, polos, putih, dan cantik.
Perkembangan terakhir, mereka telah diringkus oleh aparat keamanan. Modusnya adalah pura-pura berteman dengan anak sekolahan, yang dicarinya siswa kaya yang dengan mudah bisa menaklukkan hati siswi cantik. Mereka akan memperdaya siswa itu untuk bekerja sama menggauli siswi cantik di sekolahnya. Beberapa informasi terbaru menjelaskan bahwa ternyata sudah banyak korban berjatuhan. Kedua penjahat ini terus dimintai informasi oleh pihak berwajib.
Malam itu, Wowok dan Boncel sedang asyik menenggak miras di sebuah pondok yang sedikit terpencil. Kala itu mereka belum mengenal Bryan, teman baik mereka yang kemudian berkhianat untuk menjebloskan mereka berdua ke dalam penjara. Mereka selalu mengincar orang-orang yang bisa dimanfaatkan, di masa itu mereka mengenal seorang yang bernama Ronald, seorang pemuda yang baru pulang dari luar negeri. Ronald seorang mahasiswa, sedikit cerita, dia belajar kedokteran di Australia, lalu pulang ke Indonesia untuk mengabdi. Ia ditest untuk memulai praktek di sebuah puskesma kecil di daerah yang sedikit jauh dari kampung halamannya.
Kalimantan, di sanalah Ronald mulai mengenal Wowok dan Boncel. Walau pun hanya sekejab, karena setelah test selesai, Ronald mendapatkan gelar dokternya dan kembali ke kampung halamannya untuk membuka praktek, namun perkenalan mereka membuahkan hasil kejahatan, itu semua sudah menjadi akal bulus Wowok dan Boncel.
“Ada sms nih dari Ronald…”, kata Boncel melihat handphonenya. “Katanya target sudah berhasil dibujuk…”, lanjut Boncel. “Ya udah, sesuai rencana saja…”, kata Wowok.
Sebelumnya, Dokter Ronald kenal dengan seorang gadis bernama Kayla Natalia Haman, sebenarnya cuma hubungan sebatas pasien dan dokter, namun karena sedikit bujukan Wowok dan Boncel, Dokter Ronald terpaksa mencoba mendekati gadis ini. Wowok dan Boncel adalah preman di sana, ia selalu meminta uang keamanan di puskesmas. Karena tidak mau kariernya disendat oleh dua preman itu, ia coba untuk menurut saja.
Beberapa hari saja pendekatan yang dilakukan Ronald membuahkan hasil, gadis yang lebih akrab dipanggil Kayla itu pun mulai termakan rayuan. Ronald awalnya hanya mengajak makan malam bersama, lambat laun bisa mengajaknya jalan. Malam itu terpaksa ia menjalankan sesuai rencana Wowok dan Boncel.
“Kita pergi makan dulu ya…”, ajak Ronald kepada Kayla. “Atur saja mas, Kayla ikut saja ke mana mas bawa…”, jawabnya polos yang tidak tahu menahu dengan rencana Ronald. Mereka menyusuri sebuah jalan yang sepi, jalan yang cukup kecil dan gelap tanpa penerangan lampu jalan. Di sana lah semua petaka mulai terjadi. Kisah memilukan terhadap Kayla Natalia Haman pun menjadi pengalaman Wowok, Boncel, dan Ronald. Tanpa diketahui satu orang pun.
***
Tidak sampai di sana, malam mengerikan itu berlangsung hingga paginya.
***
“Sudah pingsan ya?”, tanya Ronald yang tadinya pura-pura tertidur. Ia dibuka mulutnya oleh pria yang tadi menggenjot Kayla yang tak sadarkan diri. Pria yang mendapat giliran pertama itu adalah Wowok, ia pun memberikan kesempatan kepada Ronald dengan membuka ikatannya, “Gue dah dua kali nih ngentotin dia, enak banget bro…”. Lalu Ronald pun segera menuju ke arah Kayla, “Hehehe, mumpung pingsan, gue mau nyicip dikit…”, kata Ronald tanpa membuka pakaian, hanya penis yang muncul dari dalam celananya melalui lubang resleting.
Ronald mulai menindih Kayla yang pingsan, ia menusukkan penisnya ke vagina Kayla lalu menggenjotnya. Ia juga menikmati seluruh tubuh Kayla, menciumi bibirnya, menyedoti susu nya dan memberikan cupangan kecil di antara puting susu Kayla.
“Woi bangun!”, Wowok menampar kecil di pipi kawannya yang sedang tertidur. Pria itu adalah temannya yang tidak lain bernama Boncel. “Ha…”, Boncel terbangun dengan mata yang sayup-sayup, terlihat masih sedikit mengantuk namun Wowok memaksanya untuk bangun, “Kita harus kabur dari sini sebelum cewek itu bangun…”, kata Wowok. photomemek.com “Gue ngantuk broo…”, kata Boncel. “Eh, lu mau kita ketahuan warga?!”, kata Wowok. Boncel geleng-geleng, namun ia masih belum mau pergi. Melihat Ronald menggagahi Kayla, Boncel malah kembali bernafsu. “Satu kali lagi ya bro..”, katanya.
Wowok terpaksa menunggu kawannya menyalurkan hasratnya lagi. Boncel menunggu giliran Ronald selesai. Beberapa lama Ronald berhasil berejakulasi dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Kayla. “Jujur bro, gue belum pernah ngentotin cewek lokal…”, kata Ronald yang dahulu pernah ‘jajan’ ditempat kuliahnya, Australia.
Boncel lalu mengambil posisi, Ronald menjauh dan kemudian diikat kembali seperti semula oleh Wowok. Rencana mereka sukses, Ronald bisa ikut memperkosa Kayla tanpa diketahui aksinya. Sedangkan Wowok dan Boncel sudah akan berencana kabur. “Ah….”, terdengar desah Kayla, ternyata ia terbangun setelah digenjot kuat oleh Boncel. “Sial, bangun rupanya itu cewek…”, kata Boncel yang tidak menghentikan genjotannya.

Tidak kehilangan akal, Wowok lalu mengambil handphone untuk memotret adegan itu. “Gue simpan semua foto bugil lu, kalau lu laporin ini ke polisi, gue sebar foto lu!”, ancam Wowok ke Kayla. Ronald pun kembali ke rencananya, pura-pura tertidur untuk menjadi pria tidak berdosa. Kayla menangis, ia tahu ia tidak bisa melakukan apa-apa. Rencana kabur Wowok dan Boncel pun sirna karena mereka masuk ke plan B, mengancam Kayla untuk tutup mulut, sehingga mereka bisa menggenjotnya hingga pagi.
Ronald terbangun paginya, Kayla masih tertidur, sedangkan Wowok dan Boncel tidak ada di tempat. Ronald membangunkan Kayla dengan menendang-nendangkan kakinya, dengan mulut tersump kain dan tubub terikat, Ronald berpura-pura untuk membangunkan Kayla. Kayla terbangun, ia terlihat trauma dengan kondisinya sendiri, namun tak mungkin ia berdiam diri, ia pun membantu Ronald melepaskan ikatan, lalu meminta Ronald untuk merahasiakan musibah ini.
Ronald pura-pura iba, ia mengambil pakaian Kayla yang berserakan di lantai lalu diberikan ke Kayla untuk dipakai kembali. Sungguh tragis, Kayla meminta Ronald memeriksa kondisi tubuhnya, ia takut hamil. Ronald pun berjanji akan merawat Kayla, dan akan melakukan aborsi jika Kayla memang keberatan bila ternyata hamil. Untuk lebih meyakinkan, Ronald bilang akan meneruskan hubungan mereka, lebih lanjut, untuk menjadi kekasihnya. Kayla merasa lega, memang ia tidak mau dikasihani, namun ia memang ada sedikit hati dengan Ronald. Namun semua hanya akal bulus Ronald, setelah ujian prakteknya selesai, ia sudah bersiap-siap untuk berpindah pulau, kembali ke kampung halamannya dan meninggalkan Kayla yang mendapat harapan palsu.

TAMAT.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts