Kenangan di Lombok – Cerita Seks 

Kenangan di Lombok – Cerita Seks

“Horeeee….” Teriakku dalam hati karena cuti panjangku telah di acc kemarin oleh kantor dan waktunya sekarang aku untuk liburan. Segera aku pulang dari kantor untuk menuju ke pulang ke rumah dengan gembira. Sudah terbayang dalam bahwa esok hari aku akan liburan menuju lombok.

a betul PULAU LOMBOK, pulau dengan keindahan alam yang begitu mempesonakanku sampai saat ini. Bersama MAYA…

1 minggu sebelumnya…

Pekerjaan kantor amat sangat menumpuk pagi itu. Closing akhir tahun dengan deadline 2 hari memaksaku untuk ambil lembur secara penuh sampai jam 12 malam dan terkadang aku sampai menginap di kantor agar deadline pekerjaanku selesai.

Akupun juga telah menyiapkan beberapa pasang baju kerja apabila aku sampai menginap di kantor esoknya telah memiliki baju yang baru. Tenaga dan pikiranku terkuras. Selama 2 hari tersebut aku terus bekerja, bekerja, dan bekerja tanpa mengenal waktu.

Sampailah pada saat waktu penyerahan laporan via email kepada principal perusahaan Pak Bobby. Sungguh saat-saat yang menegangkan dimana seluruh waktu, pikiran, dan tenaga telah kucurahkan ke pekerjaan ku itu. 2 hari sudah ku lampaui. Aku dan pak bobby merupakan teman apabila diluar kantor. Seringkali kami sering kongkow di cafe-cafe dengan beberapa teman kantor kami.

Pada suatu ketika di jam kantor. Telepon mejaku berbunyi mengagetkanku.
“Pak Jay, dipanggil Pak Bobby di ruangan. Harap segera menghadap” kata sekretaris Pak Bobby, Bu Rina.

“Siap Bu, saya segera meluncur ke ruangan Pak Bobby” kemudian aku tutup ganggang telepon. Kemudian aku dengan segera menuju ruangan Pak Bobby dengan tenang. Kemudian aku buka ketok pintu ruangannya. Tok..Tok..Tok..

“Masuk!!!” Teriak pak Bobby dari dalam ruangan. Jantungku serasa mau lepas pada saat Pak Bobby berteriak. Dengan segera aku pun masuk keruangan Pak Bobby dan duduk dipan beliau.
“Jay laporan lu dah gw terima. Masih banyak yang mesti direvisi, ada beberapa angka yang ga matching. Lu benerin dulu deh laporan lu” kata Pak Bobby tanpa basa-basi.

“Baik pak segera akan saya koreksi laporan saya tersebut”. Jawabku dengan canggung meskipun Pak Bobby terkesan santai. Aku sangat menghormati beliau meskipun umur kami hanya berpaut 1 tahun dan meskipun kami sering jalan bareng dengannya.

“Tapi overall gw dah acc laporan lu. Kesalahan lu cuma minor aja. Ga terlalu signifikan. Tapi gw harap lu selesaiin. Tolong lu selesaiin cepet yah sebelum audit.” katanya.

“Baik pak, sore ini akan saya selesaikan laporan saya. Mohon ijin pak saya hendak menyelesaikan laporan saya. Terima kasih pak apabila laporan saya sudah bapak acc” jawabku dengan tenang karena laporanku tersebut memuaskan beliau.

“Ya sudah, gw tunggu laporan lu.” Kata pak Bobby sambil tersenyum.

Akhirnya laporan closing bulananku diterima oleh principal meskipun dengan ada sedikit revisi di beberapa laporan. Overall principalku tersebut menerima dengan baik laporan yang telah aku buat. Dan akhirnya bonus bulanan tersebut akan di transfer pada awal minggu depan hari senin.

Aku sangat bangga dengan hasil yang telah kucapai tersebut. Sehingga aku ingin sekali memberikan reward kepada diriku sendiri. akhirnya aku putuskan untuk mengajukan cuti kepada principalku melalui memo.

Memang sudah menjadi prosedur kantor apabila kita hendak mengajukan cuti harus menggunakan memo yang telah disediakan kantor. Memo aku ajukan ke principal untuk cuti 5 hari, dan aku sangat berharap cutiku tersebut disetujui oleh principalku.

Disaat memo telah ku kirimkan ke principal aku menjadi bingung kemana aku akan pergi liburan, mengingat bonus yang aku dapatkan lumayan besar. Phuket, Singapore, dan KL menjadi pilihanku untuk luar negeri. Tetapi aku sudah pernah ke tempat-tempat tersebut.

Kuputuskan untuk berlibur di indonesia saja daripada mesti ke luar negeri. Banyak tempat belum aku explore di negeri sendiri. Akupun akhirnya browsing di internet untuk mencari destinasi liburanku kali ini. Raja Ampat, Ora Beach Maluku, Bali dan Lombok menjadi pertimbanganku.

Sempat membuatku bingung adalah aku akan menghabiskan liburanku kali ini dengan siapa. Dalam hati ku berkata buat apa pergi liburan apabila hanya sendiri. filmbokepjepang.com  Mengingat aku sebenarnya mudah bosan apabila sedang sendiri. Ah nanti saja aku pikirkan itu. Sekarang aku fokus untuk menentukan tujuan liburanku.

Cerita Dewasa – Kenangan di Lombok

Malam harinya aku tidak dapat tidur, sebenarnya lebay banget mau liburan aja bingung tinggal pilih destinasi tapi aku ingin liburanku kali ini berbeda dengan biasanya. Yang biasanya aku pergi dengan backpaker tapi kali ini aku ingin berbeda. Aku ingin liburan dengan fasilitas yang aga sedikit wah. Sempat terpikir Bali karena disana banyak Villa-villa yang mewah dengan fasilitas private pool.

Tapi aku bimbang karena Bali sudah begitu penuh dan ramai. Dan sudah beberapa kali aku ke Bali. Akhirnya aku urungkan Bali. Akhirnya aku putuskan untuk habiskan waktu liburanku di Lombok.
Lagi-lagi aku galau mau nginep dimana, sama siapa dan berapa lama.

Ahh capek benar mau liburan aja banyak galaunya. Maaf yah pembaca, memang sang penulis ini banyak galaunya daripada enggaknya. Aku buka website yang menawarkan villa-villa di lombok.

Pada saat aku buka Tripadvisor mataku tertuju kepada Villa yang sepertinya sesuai dengan keinginanku. Tempat tersebut sangat sepi, tenang, dan fasilitasnya pun lengkap. Dan aku lihat harga pun tidak terlalu mahal tidak seperti di Bali.

Esok paginya aku telepon hotel tersebut. Ku putuskan untuk membooking selama 3 hari 2 malam. Dan sisa cutiku akan aku pergunakan untuk istirahat total di rumah. Dan akhirnya tanggal yang aku minta kebetulan sedang avaiable. Dan aku memilih villa type deluxe pool. Urusan hotel beres.

Aku belum terpikir untuk membeli tiket pesawat ke Lombok, tau sendirilah kalo masalah sama siapa masih galau . Akhirnya akupun berangkat ke kantor dengan menggunakan mobil butut yang setia menemaniku.

Macetnya Jakarta telah menyambutku pagi itu. Meskipun aku sengaja berangkat ke kantor sedikit lebih siang. Tetap saja kemacetan ini membuatku sedikit kesal. Ku nyalakan rokok untuk menemaniku di kemacetan, tiba-tiba HPku berbunyi. MAYA nama yang keluar ketika ku lihat di layar HPku itu. Dalam hatiku ada apa Maya tiba-tiba telpon.

Aku mengenal Maya dari rekan kerjaku di kantor, Dennis. Umur kurang lebih 22 atau 23. Tinggi sekitar 165cm dengan berat sekitar 55 kg. Putih, dengan gingsul di gigi, rambut lurus sedikit berwarna blonde di bagian samping rambutnya. Bodinya langsing tetapi dihiasi dengan gundukan payudara yang sedikit lebih besar.

Sebenarnya terkesan tidak proporsional entah karena ia begitu suka menggunakan pakaian yang ketat atau BHnya menggunakan busa yang padat. Sering banget aku kepergok sama Maya kalau sedang memperhatikan payudaranya. Terkadang mata ini seringkali seperti menelanjanginya.

Perkenalanku dengan Maya sebenarnya tidak terlalu berkesan. Biasa-biasa aja. Maya memiliki sebuah butik di daerah kemang dan ia menjalankan usahanya memperkerjakan 1 orang karyawan.

“Pagi May, tumben nelpon. Ada apa nih?” Tanyaku dengan sedikit santai sambil membuang rokokku.
“Hallo Jay, apa kabar? Sorry mendadak nelpon” ujar Maya.
“Oh.. Gak apa-apa may, kenapa nih… Ada yang bisa gw banting, eh bantu?”

“Gw mau minta tolong nih Jay, sebenernya ga enak nih mau ngomong sama lu coz kita jarang ngobrol. Gw minta tolong Dennis dia ga bisa.” jawab maya yang masih menyisakan pertanyaan buat ku.
“Minta tolong apa? Kalo gw bisa bantu pasti gw bantu.”

“Bisa ga nanti pas pulang kantor mampir ke butik? Gw ada produk Βάяü buat cowo yang sepertinya sesuai sama lu” kata Maya.
“Lhaaa terus ga enaknya dimananya? Cuma buat cobain baju aja kan?” Tanyaku.

“Mau yah? Pliisss…? Nanti gw traktir makan deh” pinta Maya dengan sedikit mengiba.
“Okeee may, nanti gw ke butik lu setelah dari kantor. Nanti gw kabarin lagi kalo mau jalan dari kantor yah may…” Aku setujui permintaan Maya.
“Okay deh gw tunggu kabar dari lu yah?” Kemudian ia menutup telponnya.

Setengah jam kemudian akhirnya aku telah sampai di kantor. Dengan segera aku memeriksa pekerjaan ku yang sebenarnya tidak ada pekerjaan lagi yang mesti aku kerjakan. Hanya formalitas aja aku harus hadir di kantor. Tiba-tiba aku di kagetkan dengan tepukan di bahu.

“Heh ngelamun aja lu, bayangin siapa sih lu… Yang mau cuti malah galau. Payah lu…” Kata Dennis sambil senyum-senyum.
“Ehh lu, ga galau laaahh… Gw mau liburan ke lombok. Dah nemu akhirnya hotel yang gw mau” kataku.

“Gimana? Jadi lu ke tempatnya si Maya? Tadi gw sengaja nolak permintaan si Maya. Soalnya ada janji sama Bu Rina. Mau makan malam.” Kata Dennis dengan penuh senyum yang menurutku senyuman mesum.

“Gila lu ndrooo… Bu Rina lu embat juga. Trus jangan-jangan lu yah yang suruh Maya nelponin gw?” Tanya ku dengan penasaran.
“Biasa aja kale… Ga perlu heboh gitu. photomemek.com daripada lu manyun cuma bisa liat toket si Maya dari jauh tuh gw umpanin lu supaya bisa liat dari deket makanya gw rekomendasiin lu.”

“Geblek, kirain ga ada yang merhatiin” sambil garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal.”
“Si Maya yang kasih tau gw kalo lu sering perhatiin toketnya. Makanya bro dateng aja ke tempat si Maya. Siapa tau lu dikasih lebih.” Kata Dennis.

“Gw sih tadi udah setuju mau dateng, sekarang gw jadi ga sabar pengen liat toket maya dari deket” tawa lebar ku memecah kesunyian kantor. Secara reflek aku menutup mulutku karena semua orang kantor memperhatikanku.
“Ya udah bro.. Selamat senang-senang yah” kata Dennis sambil meninggalkan meja kerjaku.

Aku menghitung hari masih 3 hari lagi aku akan pergi ke Lombok. Masih ada kesempatan buatku untuk mencari seseorang yang bisa di ajak liburan. Sejenak terpikirkan untuk mengajak Maya.

Langsung saja aku hilangkan dalam pikiranku untuk mengajak Maya. Boro-boro bisa ajak Maya, ngobrol aja ga pernah. Waktu demi waktu terus berlalu. Waktu telah menunjukkan pukul 16.30. Aahh saatnya untuk membereskan mejaku sampai bersih.

17.00 saatnya jam pulang kantor. Aku pun sms ke Maya dan mengatakan kalau aku on the way ke butiknya. Dan Maya pun menjawabnya denga singkat “okee”

Lagi-lagi macet yang aku temui. Akhirnya setelah 1 jam dari bilangan kuningan ke kemang aku bisa melalui kendaraan-kendaraan tersebut. Dengan segera ku pacu kendaraanku dengan cepat. Sengaja ku pacu dengan cepat karena aku tidak mau menemui kemacetan di daerah kemang.

Sesampai di Butik Maya sempat kaget dengan tulisan di kaca “CLOSED” aku pun mencoba membuka pintuk butiknya. Masuk ke butik Maya disambut oleh Maya sendiri. Ia menggunakan setelan casual baju kaos putih longgar bergambar dengan belahan dada yang rendah dan rok jeans mini dipadukan dengan sepatu hak tinggi.

Sehingga ia sedikit lebih tinggi daripada aku. Kaos putih tersebut sedikit longgar sehingga meskipun tidak terlalu ketat payudara Maya begitu sesak di dalam bajunya. Kaki jenjangnya begitu menggoda, putih, mulus, dan hampir tidak ada cacat sama sekali.

Butiknya tidak terlalu besar berukuran 6X10 dengan satu lantai, terkesan mewah. Memang untuk daerah kemang begitu banyak expatriat dan orang-orang berduit apabila memiliki usaha di wilayah tersebut memang harus memiliki konsep interior yang mewah dan lux. Butik Maya menjual berbagai macam jenis baju, mulai dari casual, baju pesta, dan beberapa di pojok terdapat baju renang.

“Capek ga jay? Minum dulu yuk. Sebentar yah gw pesenin minuman dulu” tanya Maya kepadaku.
“Ga usah repot may, air putih juga cukup.”
“Yasudah gw ambilin air mineral aja deh yang ada di kulkas. Tunggu sebentar yah? Liat-liat aja dulu koleksi baju gw” kata Maya.

Maya pun pergi ke ruangan belakang yang sepertinya ia jadikan gudang. Kemudian aku pun berputar-putar di butiknya sambil sesekali melihat koleksinya. Ada beberapa baju yang menurutku memang bagus desainnya. Memang sepertinya Maya sangat berbakat di bidangnya. Kemudian aku duduk di kursi sofa yang menghadap kamar pas. Tidak lama kemudian muncul Maya membawa 2 botol air mineral dan sedikit snack. Dan ia pun bergabung duduk di sofa bersama ku.

“Wah butik lu bagus juga yah may, interiornya keren banget. Koleksi-koleksi baju lu juga banyak dan bagus-bagus” aku membuka pembicaraan dengan Maya untuk mencairkan suasana. “Biasa aja lagi jay, kalo koleksi gw bagus-bagus pasti rame. Ini lu liat sendiri sepi”

“Yaa belum kali. Semua kan pasti ada waktunya. By the way udah berapa lama lu buka butik ini?” tanyaku.
“Udah berjalan 6 bulan masih buntung lum untung. Ini lagi bikin desain yang ga biasa-biasa supaya butik gw tetep eksis. Soalnya gw liat disini kalo model biasa-biasa aja ga laku” jawab Maya.

“Gw yakin lu pasti bisa kok, omong-omong gw disuruh kemari mau cobain baju apa nih?”
“Hehehehehe… Iya sampe lupa.  ceritaseksbergambar.com Sebentar gw ambil dulu bajunya” kata Maya sambil membuka laci dibawah sofa yang ternyata model sofa tersebut memiliki laci di bagian bawahnya.

Maya mengambil baju tersebut sambil menunduk dan aku pun sempat menelan ludahku sendiri melihat begitu jelasnya pemandangan payudara Maya yang memang besar dibalut dengan BH berwarna merah tua. Sepertinya BH tersebut tidak menggunakan Tali hanya menggunakan pengait di bawah ketiak. Dan penisku ku pun akhirnya mulai bergeliat di balik celana kantorku tersebut.

Entah memang disengaja oleh Maya atau melihat pemandangan tersebut waktu menjadi melambat sepertinya lama sekali kejadian itu berlangsung. Sepertinya sadar aku perhatikan pemandangan tersebut Maya menutup kaosnya dengan tangannya dan aku pun tersadar sehingga aku pura-pura membuang muka ku ke arah lain.

“Sial” dalam hati aku mengumpat. Bukan karena pemandangan tersebut hilang begitu saja melainkan begitu bodohnya aku sampai bisa ketahuan oleh Maya kalau aku sedang melihat gundukan payudaranya.

“Nih coba bajunya. Tuh gantinya di kamar pas” kata Maya sambil memberikan baju tersebut kepadaku. Lalu Aku berjalan ke arah kamar pas yang hanya berjarak sekitar 3 meter dari sofa tempat aku dan Maya duduk. Di dalam kamar pas aku coba baju tersebut.

Kemeja dengan model yang sebenarnya terlalu kecil di bagian perutku. Tetapi aku paksakan kemeja tersebut dengan menahan perutku agar bisa muat. Maklum perut ini terlalu banyak buat minum-minuman jadinya ya gitu deh buncit. Tapi masih bisa aku tahan karena memang sudah jadi kebiasaanku.
Kemudian aku keluar dari kamar pas.

“Gimana may? Pantes ga?” Tanyaku kepada Maya.
Dengan senyuman maya menjawab “pantes keliatan junkies banget lu pake. Tapi kok kayaknya lu ga nyaman yah pake itu”

“Iya may, kegedean perut. Kan lu tau ndiri kalo gw sama pak Bobby and dennis suka minum-minum bareng lu” jawabku.
“Hahahaha…. Iya sih. Tapi gw rasa lu pantes kok pake itu” kata Maya.

Berbagai macam baju telah aku coba, ada yang pantes, ada yang tidak pantes, ada yang keliatan seperti gigolo, macam-macam deh pokoknya. Sampai akhirnya tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Dan akupun mulai lapar dan begitu pula Maya. Kemudian Maya mengajak ku untuk dinner di sebuah cafe yang cukup ramai dikunjungi tempatnya tidak jauh dari Butik Maya cukup berjalan kaki saja.

Kita telah memesan beberapa menu makanan yang disodorkan oleh waitress di resto tersebut. Dari sinilah aku mulai banyak tahu tentang Maya. Maya sangat berambisi untuk mewujudkan cita-citanya. Menjadi desainer yang di akui di Jakarta.

Dan aku pun mulai banyak bertanya tentang cita-cita maya tersebut. Dan Maya pun lebih terbuka kepadaku. Ia banyak berkeluh kesah terhadap cita-citanya yang sangat sulit ia capai. Dan akupun menyemangatinya untuk bisa lebih semangat lagi mengahadapi semua tantangan-tantangan di masa depan.

Kenangan di Lombok – Cerita Seks Dewasa

Makanan dan minuman pun mulai satu persatu tersaji di depan kami. dan kamipun menyantapnya dengan lahap. Tidak ada pembicaraan apapun selama kita menyantap makanan masing-masing.
Setelah semua makanan telah kita habiskan kami pun melanjutkan obrolan kami. Suatu moment kesempatan datang tanpa aku duga.

“Jay, gw lagi buntu ide desain baju nih. Jalan yuk kemana kek. Kalo lu mau.” Tanya Maya kepadaku.
“Emang kenapa May?” Tanyaku lagi.

Kemudian Maya menjawab “gw butuh ide-ide segar nih buat konsep wardrobe yang udah mulai usang menurut gw. Konsep wardrobe gw sekarang kayaknya begitu-begitu aja ga ada yang membuat gw puas”
“Ya sudah lu mau kemana? Kapan?” Kembali aku bertanya kepada Maya.

“Kemana kek, kapan waktu lu bisanya aja. Pengennya sih tempatnya yang bener-bener suasananya baru, fresh, dan tenang. Gw pengen short escape dari Jakarta nih” ujar Maya.
“Ya sudah lu mau berapa lama? 3 hari lagi gw cuti.”Tanyaku.

“Pengennya sih seminggu tapi ya mana mungkin gw tinggalin butik lama-lama. Paling 3 harian lah menurut gw dah cukup.” Jawab Maya.
Kemudian aku berkata “ya sudah siap-siap aja 3 hari lagi gw ajak lu jalan. Tapi dengan satu syarat?”

“Apa tuh? Jangan yang aneh-aneh yah?” Tanya Maya.
“Engga aneh-aneh kok. Gw cuma minta lu ga nanya kita mau kemana. Pokoknya lu ikutin aja yang pasti gw jamin lu pulang dengan keadaan fresh, dan yang pasti tempatnya bikin lu tenang banget.” Jawabku.

“Okee deh, terserah lu mau kemana. Nanti biaya gw yang nanggung.”
Kemudian aku menjawab “siap may, besok gw kabar-kabarin. Yuk gw anter pulang”.

Kemudian kami berdua berjalan ke arah butik Maya untuk menuju mobilku. Aku antar Maya tanpa terjadi insiden apa-apa. Meskipun di mobil tidak bisa berkonsentrasi melihat paha mulus Maya yang bening tersebut.

2 hari kemudian aku menelpon Maya. “May, besok kita pergi pesawat jam 8.15 kita ketemuan di bandara Soetta yah?” Kataku kepada Maya.

“Hah?? Kita mau kemana kok pake pesawat segala. Upsss iyaa gw ga boleh nanya-nanya mau kemana yah. Hehehehe….” Tanya Maya dengan penasaran.

“Itu tauu… Positif yah? Soalnya tiket dah kebeli sama gw” jawabku.
“Iya.. Iya… Tetep jadi kok. Jangan kuatir bos” timpal Maya. “Okee jadi jangan lupa yah. Besok kita di terminal 2 pesawat garuda gate F. On time yah”. Aku pun memastikannya. “Siap bossss on time pokoknya”.

Aku pun berteriak dengan gembira. Akhirnya aku pun jadi liburan ke Lombok. Dengan segera aku ke pulang ke rumah dan langsung packing baju-baju dan beberapa buku kesukaanku yang belum aku baca. Tidak sabar aku menanti besok, aku pastikan booking hotel “JK” bagian reservasi dan aku juga memastikan jemputan oleh pihak hotel. Semuanya telah siap dan sesuai rencana.

Esok harinya aku telah berada di bandara soetta pukul 7 pagi. 15 menit kemudian Maya menelpon ku bahwa ia telah sampai di bandara. Kemudian kamipun bertemu. Penampilan Maya kali ini sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Ia mengenakan tanktop putih di tutup dengan baju berenda warna krem, celana pendek ketat berbahan kain. Dan memakai sendal teplek. Dan menggunakan topi softball berlambang Yankee warna hitam. Dan kacamata besar menghiasi wajah Maya yang manis itu.

“PD amat baju lu.. Emang lu tau kita mau kemana?” Candaku kepada Maya.

“Ahhh lu sih ga kasih tau gw. Tapi logikanya lu ga minta nomer passpor gw berarti liburannya di indonesia duank. Benerkan? Tapi gw penasaran banget nih”. Kilah Maya.

“Kita mau ke Lombok May, gw dah pesen hotelnya sebelum lu minta di ajak pergi kemaren.” Kataku.
“Haaahh… LOMBOOOKK???… Ya ampun jaaayy… Gw emang pengen banget pergi kesana. Lu ga kasih tau gw jadinya persiapan gw ga ada sama sekali.” Jawab Maya dengan antusias sekaligus dengan manja.

Akhirnya tidak menunggu lama setelah check in maskapai kita pun sedikit berbelanja membeli beberapa perlengkapan dan buku untuk di bawa buat perjalanan.

Tak terasa waktu semakin cepat dan kita pun harus naik pesawat. Perjalanan 2 jam pesawat tidak begitu terasa bagi kami. Karena kami habiskan untuk saling mengenal diri kami masing-masing. Sepertinya ia sangat senang dengan perjalanan yang tak terduga ini.

Bandara International Lombok, kami telah sampai mendarat dengan selamat. Wajah kami lebih bersemangat dan berseri-seri. Kami keluar menuju tempat dimana kami akan di jemput oleh pihak hotel. Tak lama kemudian Papan nama bertuliskan WIJAYA terlihat oleh kami.

Dan kami pun bergegas menuju petugas hotel yang menjemput kami. Kami pun naik mobil yang telah menunggu untuk mengantar kami ke hotel “JK”. Di dalam mobil telah disediakan handuk dingin dan minuman jeruk sebagai welcome drink. Kami berdua begitu menikmati sepanjang perjalanan menuju hotel. Di tengah perjalanan Maya bertanya

“Jay, lu pesen kamar hotel apa villa?”
Kemudian aku jawab “villa. Bagus banget villanya. Very recommended versi tripadvisor”

“By the way kamarnya ada berapa?” Tanyanya lagi.
“Cuma ada 1 may kamarnya. Gampanglah kalo masalah tidur gw biasa ngampar hehehehe…” Candaku.

“Oooooo… Gak apa-apa lagi tidur seranjang. Gw takut kalo di tempat yang baru tidur sendirian.” Kata Maya tanpa merasa risih atau canggung.

1 jam kemudian kita telah sampai di hotel “JK”. Pemandangan asri hotel begitu enak dan nyaman dipandang. Hawa dan pemandangan laut langsung terlihat dan kami rasakan. photomemek.com Begitu damai, indah, tenang, dan sepi. Kamipun melakukan reservasi terlebih dahulu, welcome drink pun kembali datang, kali ini jus semangka yang di hidangkan kepada kami.

Di reservasi disebutkan kami mendapatkan villa type akasha. Saya sendiripun sangat penasaran seperti apa villanya. Karena di websitenya villa tersebut sangat nyaman, sederhana, dan private. Dengan di antar bell boy kami pun menuju ke villa. Villa kami seperti rumah dengan pagar tembok tinggi mengelilingi villa dihiasi dengan pohon bambu yang mengelilingi tembok.

Begitu masuk villa kami disambut dengan kolam renang yang tidak terlalu besar tapi sangat jernih dengan dihiasi 3 patung yang mengeluarkan air dari patung tersebut.

Kemudian kami lebih masuk lagi di teras terdapat sofa yang sangat lebar, dengan beberapa bantal besar di atas sofa tersebut. Dengan background taman sofa tersebut keliatan sangat teduh. Bell boy pun pamit karena telah mengantarkan kami ke dalam villa, tidak lupa aku berikan tips kepada bell boy tersebut.

Tiba-tiba terdengar teriakan Maya dari belakang Villa. Dan aku pun bergegas ke belakang villa takut terjadi apa-apa dengan Maya.

“Kenaaapa maayy… Kamu ga apa-apa?” Tanyaku kepada Maya yang aku lihat sedang menutup mulutnya.

“Ini kamar mandi ga ada pintu, ga ada kaca, keliatan banget dari tempat tidur. Ini sih buat orang honeymoon” kata Maya sambil tersenyum-senyum.

“Ya nanti kalo lu pas mandi gw di depan aja atau gw keluar villa supaya lu nyaman mandinya.”
Kemudian Maya berkata “jangaan.. Lu di depan aja, tapi jangan ngintip ke dalem. Gw malu donk lu liatin.”

“Yaa may, gw ga ngintip kok tapi kalo ga sengaja gak apa-apa kan?”Candaku.

“Dasar cowok”sambil mencubit perutku yang buncit tanpa sempat aku mengelak.

“May yukk kita makan siang, ga sabar nih gw pengen cobain makanan hotel. Kayaknya enak makanannya” ajak ku.

“Yuuuukkk” jawab Maya.

Tidak lama kemudian tanpa membuka koper, kamipun pergi keluar villa untuk makan siang. Jalan setapak hotel membimbing kami menuju ke kolam renang hotel. Dan di pinggir pantai terdapat gazebo dilengkapi dengan kasur dan bantal. Cocok sekali untuk menyepi sambil baca buku dengan pemandangan lukisan alam gunung agung bali di sebrangnya.

Sungguh indah Tuhan menciptakan pemandangan alam ini. Kemudian kami menuju resto hotel dan kami pun makan siang. Setelah selesai makan siang aku ajak Maya untuk menikmati pemandangan di gazebo pinggir pantai.

Cerita Dewasa – Kenangan di Lombok

“Pemandangannya bagus yah may, untung last minute lu pengen escape dari jakarta. Jadinya gw ga sendirian liburannya”

“Iya, keren banget gunung agung bali sampe keliatan dari sini meskipun sedikit berkabut tetep keliatan.”

“Jay, gw ke villa dulu yah. Gw mau ambil perlengkapan gw buat sketsa. Gw langsung turn on nih liat pemandangan disini.” Kata Maya.

“Silahkan May, gw disini aja yah? gpp kan ga gw anter ke villa. Gw masih pengen banget nikmatin pemandangan ini.” Kataku.

Maya pun meninggalkan ku sendirian di gazebo itu. Aku mencoba untuk merebahkan badan ku ke kasur atau tepatnya matras berwarna putih itu. Tanpa kusadari aku pun mulai mengantuk dan tertidur karena udara sejuk dan suara air laut yang menabrakkan dirinya ke pantai.

Entah berapa lama aku tertidur di gazebo itu, kemudian aku sedikit membuka mata dan ku lihat Maya telah berada di sampingku sedang sibuk menggoreskan pensilnya ke sebuah kertas. Ia pun sepertinya menikmati kegiatannya tersebut. Sesekali ia memandang ke arah lautan. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai di terpa angin laut yang sepoi-sepoi.

Dan aku pun mulai terbangun dari tidurku. “Eh may, sorry gw ketiduran. Habis enak banget nih tempatnya. Kayaknya gw bakalan betah disini, apalagi bisa deket-deket sama cewe secantik lu” kataku kepada Maya dengan sedikit mengantuk.

“Dasar gombal… Gpp lagi jay, justru kayaknya gw yang ganggu tidur lu”

“Ga kok… Gw males tidur lama-lama. Rugi donk kalo sampe di buat tidur duank. Ya sudah terusin gambarnya. Gw mau berenang” kataku sambil meninggalkan Maya di gazebo.

Dan aku pun setengah berlari ke arah pantai mangsit. Ya betul ini adalah pantai mangsit, pasirnya tidak terlalu putih dan sedikit berkarang. Tetapi ada beberapa bagian yang bisa aku pergunakan untuk sekedar merendam badanku di air laut ini. Aku pun melepas bajuku hanya meninggalkan celana pendek.

Dan aku pun berteriak ke arah Maya

“May kemari donk, main air yukkk seger banget nih” Terlihat Maya sepertinya enggan untuk mengikuti ajakan ku.

“Ya sudah gak apa-apa kalo ga mau” aku menghibur diri sendiri. Sebenarnya aku ingin melihat tubuh Maya basah karena air laut.

“Sebenernya gw mauuuu… Tapi.. Tapi… Ntar lah kalo gw dah selesai satu gambar ini” kata Maya.

” Okay mayyy… Terserah lu… Puas-puasin deh” kataku.

Tak lama Maya mulai beranjak dari tempat ia duduk di gazebo. Baru kusadari Maya menggunakan baju berbahan katun terusan hampir selutut, dan tanpa lengan. Berdiri di pinggir pantai tempat aku bermain air, kemudian Maya berkata

“sebenernya gw mau jay ikutan main air kayaknya seru banget. Tapi jujur gw ga pake BH and cuma pake celana dalam” kata Maya.

Jedheeerrr bagai kilat di siang bolong. Tanpa kusadari penisku mulai bergeliat membayang Maya berbasah ria dengan payudara tercetak akibat basah. Muncul niat ku yang iseng untuk mengerjainya. Dengan mengambil air menggunakan kedua tanganku kusiramkan air ke badan Maya. Dan ia pun terkejut sambil berteriak seakan protes dengan apa yang aku lakukan tersebut.

Aku pun tidak berhenti sambil tertawa lebar, berulang kali air laut itu aku siramkan ke arah Maya. Dan ia pun membalas dengan lemparan pasir ke arahku. Sedikitnya aku lega ternyata Maya tidak marah, malah ia mulai mendekatiku untuk membalasku dengan air. Akupun mulai menelah ludah campur air laut yang asin. Mulai terlihat payudara Maya yang besar, bulat, dan tegak itu.

Terlihat sekali pentil yang dikelilingi warna kecoklatan tercetak sangat jelas dibalik bajunya tersebut. Seperti tidak menyadari bahwa aku sudah memperhatikan payudara montok tersebut Maya setengah berlari ke arahku, rupanya air laut sedikit menghambat geraknya dan ia mulai limbung badannya. Dan ia pun terjatuh ke depan ke arah badanku.

Dengan sedikit gerakan refleks aku memegang ketiaknya agar tidak terjatuh. Karena aku tidak berpijak dengan benar akhirnya kami berdua pun jatuh dengan posisi Maya menindihku. Payudara montok itu pun menyentuh dadaku, sangat kenyal dan benar dibuai aku sambil memeluknya. Tak kuhiraukan bahwa badanku telah tenggelam ke dalam air aku ingin berlama-lama menikmati keadaan ini.

“Ehhh sorry jay, gw ga sengaja… Lu sih iseng banget” kata Maya sambil menarik tanganku karena hampir seluruh badan dan kepalaku terendam air laut.

“Hehehehe…. Gak apa-apa may. Enak banget ketimpa gunung.”Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Hahahahaha…. Sialan pantesan lu anteng banget ketimpa badan gw” ucapnya sambil tertawa.
Dan kami pun kembali ke gazebo.

Tangan Maya pun menutupi payudaranya. Aku pun semakin dibikin horny oleh tingkah laku Maya. Meskipun tidak ada sinyal-sinyal dari Maya untuk aku bisa melangkah lebih jauh, tetap saja mana ada cowok yang tahan melihat pemandangan yang begitu menggoda.

Lalu aku mulai memandang Maya dari atas sampai bawah ternyata benar ia hanya menggunakan celana dalam berwarna hitam di balik baju terusannya tersebut. Sepertinya celana dalanm yang ia pergunakan model mini, sehingga mencetak pantatnya yang tidak begitu besar tapi tetap saja akan menggoyang keimanan cowok manapun.

“Jay, bisa minta tolong ga? Ambilin handuk hotel donk di villa, malu nih toket gw keliatan.” Pinta Maya.

“Ga usah may, nih pake kaos gw aja masih kering. Lu double-in aja. Pasti ga keliatan kok”

“Ouw yaudah, boleh yah gw pake?” Kata Maya. Aku pun mengangguk.

“Yaudah kita balik ke villa yuk sekalian mau mandi. Lengket nih kena air laut.” Ajakku kepada Maya.

Kami berdua pun berjalan bersama-sama, Maya pun mulai sedikit nyaman berada disampingku. Ia mulai mendekatkan badannya memegang lengan kananku. Di saat ia memegang lenganku ia mulai merapatkan badannya ke lenganku tersebut, sepertinya ia risih meskipun telah menggunakan baju kaos ku. Untuk meutupi bajunya yang basah.

Kunikmati saat-saat itu sengaja aku berjalan perlahan sambil mengajaknya berbicara agar semakin lama aku sampai ke villa semakin lama pula aku menikmatinya.

“May, gw duluan yah ke kamar mandinya? Gw cuma mau bilas. Sebentar aja, soalnya gw pengen berenang di pool nih…” Kataku kepada Maya.

“Okay… Lu duluan gih, gw juga mau pilih-pilih baju dulu buat gw pake ntar sore.” Jawab Maya.

Dengan segera aku bergegas menuju ke belakang villa. Desain interior kamar mandi memang luar biasa tanpa ada sekat semi outdoor, shower dan bathtube hanya di batasi dengan tembok. Cukup terlihat jelas apabila kita akan melakukan aktifitas di kamar mandi apabila dilihat dari kamar tidur. Satu-satunya pembatas antara kamar mandi dan kamar tidur hanya dibatasi oleh pintu kaca yang besar.

Aku pun tidak ambil perduli dengan keadaan ini, aku buka kran shower dan segera aku membilas tubuhku dengan air shower. Cukup segar, dingin, dan tidak ada rasa air asin mengingat villa ini berada di pinggir laut. Sesekali aku mencoba untuk melirik ke arah Maya, untungnya ia sedang sibuk untuk membongkar kopernya untuk mengeluarkan baju_bajunya dan diletakkan di dalam lemari baju hotel.

“Jay gw buka koper lu yah? Gw mau keluarin baju-baju lu. Soalnya biar rapi ga berantakan.” Kata Maya dengan setengah berteriak.

“Okee May, terserah lu. Gw sebentar lagi juga kelar nih. Kalo lu ga repot” jawabku.

Dan ia pun juga membongkar isi koperku untuk melakukan hal yang sama. Andaikan ia jadi istriku wah sungguh beruntung sekali mendapatkan istri seperti ia. Sudahlah berpikir apa aku ini. Aku hanya berusaha realistis, meskipun suasana sangat mendukungku untuk melakukan hal apapun tetapi aku tepis itu semua.

Tak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi, dengan berbalut handuk di pinggang aku pun berjalan ke arah kamar tidur dan menuju ke koperku. Kulihat Maya sudah menggunakan handuk kimono, dan membuatku penasaran apakah Maya sudah tidak mengenakan apa-apa di balik baju itu.

“May celana renang gw mana yah? Udah di taruh di lemari? ” Tanyaku kepada Maya

“Iya jay ada di lemari baju sebelah kanan. Yang di kiri itu baju gw semua. Gw juga mau bilas dulu yah, lengket banget.” Jawab Maya seraya menuju ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya yang terkena air laut.

“Siipp bu… “Jawabku sambil tersenyum.

Kemudian aku segera membuka lemari baju tersebut. Deretan baju yang telah tersusun rapi dan sebagian pula ada yang di gantung. aku melirik ada beberapa underwear Maya yang tersusun di sebelah kiri bawah. Beberapa stel bikini, celana dalam, dan BH. Hasrat ku sedikit demi sedikit mulai muncul untuk mencium aroma underwear dan bikininya.

Kupegang sambil sedikit bergetar karena baru kali ini aku melakukan hal ini. Sambil sesekali melihat situasi karen takut Maya mengetahui aksiku ini. Wangi… Itu yang terlintas di pikiranku. Sayang belum ada yang terpakai sama sekali.

Mungkin kalau ada celana dalam bekas pakai akan membuat birahi ku naik menghirup aroma kewanitaannya. Aku selesaikan urusan mesum itu, kemudian aku beralih mencari celana renangku. setelah kutemukan langsung aku memakainya.

Tak lama kemudian aku telah berada di kolam renang tersebut. Segar sekali airnya, dan tidak ada aroma air laut sama sekali.

Di saat aku sedang menikmati segarnya air kolam renang di villa, dikejutkan dengan Maya yang mendekati arah kolam renang dengan menggunakan handuk kimononya. Kemudian ia dengan berjongkok sambil bermain-main air dengan menggunakan tangannya. Kemudian dengan tampang yang sedikit mesum dan jahil aku mulai mendekati Maya, berharap aku bisa mengulangi keisenganku tadi di pantai.

“Mau iseng lagi yah? Jangan harap kali ini gw bisa kena lu kibulin hahahaha…. .” Kata Maya dengan sedikit menjauh dari pinggir kolam renang.

“Engga kok, gw cuman mau deket-deket lu sambil ngobrol.” Kataku.

“Gw tau niat lu mau narik gw kan? Keliatan tuh dari senyuman iblis lu.” Kata Maya.

“Hahahaha…. Namanya juga usaha May, siapa tau gw bisa liat pemandangan gunung agung dari sini.” Jawabku dengan tertawa.

“Btw gw lagi pengen gila-gilaan nih… Gw pengen…” Kata Maya sambil menggigit bibir bawahnya dan matanya pun seakan melihat-lihat sekeliling villa ini.

“Gila-gilaan apaan? Boleh-boleh aja asal jangan gila beneran aja.” Tanyaku kepada Maya.

“Ntar deh, gw mau gabung lu berenang… Tapi gw mau pake baju renang dulu.” Kata Maya.

“Ga usah pake baju juga gak apa-apa May, lebih seru tauu.. “Tanpa kusadari kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Yeeeee enak di lu ga enak di gw… Hahahaha…” Jawab Maya seraya pergi menuju ke dalam kamar.

aaahhh… Sepertinya aku mulai menyukai Maya. Ia begitu anggun, kalem, lembut dan sederhana. Tidak ada sedikitpun ia menonjolkan kelebihannya.

Akupun mulai berpikir apakah aku hanya terbawa suasana atau hanya hasrat birahiku, atau aku memang mulai tertarik dengannya. Tak kusadari aku mulai memperhatikan Maya, dan mulai berandai-andai. Andaikan ini… Andaikan itu… Banyak sekali pikiran yang waktu itu terlintas dari pikiranku.

Tak lama kemudian Maya pun melangkah menuju kolam renang dengan langkah yang seakan-akan slow motion pada saat aku melirik ke arahnya. Wah ia mengenakan bikini yang tadi aku pegang-pegang di lemari. Bikini warna hitam itu begitu seksi sekali kontras dengan warna kulitnya, payudaranya begitu bulat terangkat oleh top piece-nya.

Pinggiran payudara itu begitu jelas terpampang dan hanya menutupi sebagian kecil saja payudaranya. Celana dalam mini warna dengan tali yang mengikat di pinggang menutupi vagina Maya, sepertinya tidak ada bulu sedikitpun yang keluar dari celana dalam itu.

“Kok liatnya kayak gitu sih jay? Emang ga pernah ya liat cewek pake bikini?” Tanya Maya membuyarkan tatapan nakal ke arahnya.

“Ehhh… Pernah sih, cuma baru kali ini gw liat cewek begitu seksi di deket gw dan cantik pula.” Jawabku dengan sedikit terbata.

“Emang gw seksi yah? Aahh lu gombal nih mujinya.” Kata Maya dengan sedikit memerah pipinya karena pujianku.

“Beneran May, andaikan gw punya cewek kayak lu pasti dah gw pacarin hehehehe…” Lagi-lagi aku berkata dengan memujinya.

Dengan perlahan-lahan Maya mulai memasukkan kakinya satu persatu ke dalam air, dengan posisi masih duduk di pinggir kolam sepertinya ia sedang membiasakan tubuhnya dengan dinginnya kolam renang.

Kemudian ia mulai menenggelamkan sebagian badannya ke dalam air. Semua itu ia lakukan dengan dengan begitu anggun dan elegan. Mungkin hanya pikiran kotor ku saja ia sepertinya dengan sengaja melakukan hal itu.

Timbul ide gilaku untuk berenang dalam keadaan bugil. Aku tidak berpikir panjang, pada saat Maya sedang berenang menjauh dari ku dengan segera ku lepas celana renang ku yang berwarna coklat itu dan kulemparkan ke pinggiran kolam renang.

Astaga sensasinya luar biasa, penisku terasa bergoyang mengikuti riak air kolam renang dan yang membuatku mulai horny ketika membayangkan Maya mengetahui bahwa aku telah bugil di hadapannya. Sengaja aku membelakanginya aku bukan tipe eksbisionis, aku masih merasa malu dan canggung.

Meskipun semua telah terjadi aku ambil semua resiko bahwa nantinya Maya akan marah atau mengikuti permainanku. Tanpa aku perlu menoleh ke arah belakang aku tahu bahwa Maya sedang berenang menuju ke arahku. Meskipun kolam renang itu tidak terlalu panjang sepertinya lama sekali Maya mencapai tempat dimana aku berada saat ini.

“JAAAYYY…. Gilaaaa luuu…. Jadi dari tadi lu berenang ga pake celana???” Teriak Maya seakan-akan ia memberi pengumuman kepada seluruh penghuni Villa bahwa aku sedang bugil.

“Hehehehe… Yang kenceng sekalian may biar semua orang tau. Gw lagi pengen banget berenang sambil bugil, dimana lagi gw bisa berenang sambil bugil.” Jawabku denga berusaha setenang mungkin padahal malunya luar biasa.

Sambil menutup mulutnya yang mungil itu Maya berkata ” uppsss…. Sorry gw kelepasan. Lagian sih lu ga bilang-bilang kan gw refleks.”

“Ssssttt… Diem-diem aja jangan bilang-bilang dennis yah, gw malu” kataku.

“Yaelah Jay, tenang aja. By the way tadi gw sempet kepikiran mau berenang ga pake apa-apa pas tadi gw pake kimono. Cuma gw takut lu risih” kata Maya.

“Risiiihh? Trus kenapa sekarang lu masih pake bikini itu hehehehe… Takut lu ama gw? Kan gw dah gak pake apa-apa.” Kataku dengan niat yang amat mesum.

“Eehh siapa takut… Tapi resiko di tanggung sendiri yah? Gw ga tanggung jawab kalo ada yang berdiri di bawah situ” Kata maya sembari tersenyum menunjuk ke dalam air. Dan kemudian dengan perlahan ia mendekat ke arahku.

“Tolong jay lepasin ikatannya” sembari menunjuk ke arah top piece-nya yang terikat ke leher.

“Yaahh ini mah lu mancing-mancing di air keruh hehehehe…” Meskipun aku berkata demikian aku pun tetap melepaskan ikatan top piece-nya. Dan akhirnya lepas sudah top piece Maya dan kemudian ia lemparkan begitu saja ke pinggir kolam. Kemudian ia juga mulai menarik tali celana dalamnya, dan setelah terlepas ia pun juga melemparkannya.

“Anjriittt… Gila jay sensasinya, gw jadi merasa seksi banget tanpa pakai apa-apa” kata Maya.

“Sama May, gw juga… Tadi juga ngerasa gitu pas gw lepas celana. Campur aduk antara malu, lega, samaaaa…. Horny” kataku.

“Iya Jay, kok jadi aneh gini yah rasanya.” Kata Maya yang kemudian ia membalikkan badannya menghadapku sambil tetap menutupi payudaranya dengan tangan.

“Jangan ditutup may, biar semua beban lu keluar semua dan nikmati aja yang ada saat ini” harapku aga Maya mengekspos tubuhnya yang indah itu.

Cerita Dewasa Terlengkap Mister Sange

Kemudian tanpa malu-malu Maya mulai melepas tangan yang menutupi payudaranya itu. kemudian ia mulai merebahkan badannya ke dalam air seperti gaya kupu-kupu tapi tanpa menggerakkan tangannya meninggalkanku menjauh. Ya Tuhan payudara menyembul di permukaan air, pemandangan itu membuat gerahamku seakan-akan hendak lepas dari tempatnya.

Pentil berwarna merah muda sesuai dengan kulitnya yang putih itu. Sudah diperlihatkan dengan pemandangan itu aku menjadi berharap-harap akan melihat vaginanya juga timbul dari dalam air. Sekilas dari dalam air aku tidak melihat ada bayangan hitam dari selangkangannya perkiraanku Maya memang tidak memiliki bulu kemaluan.

Dengan sedikit keberanian aku juga mulai mengikuti Maya menuju pinggir kolam renang yang diseberangku. Aku pun melakukan diving ke dalam air pada saat mendekatinya. Astaga memang hanya sedikit bulu di atas vaginanya dengan pola memanjang ke arah pusar. Penisku pun perlahan mulai mengeras melihat tubuh Maya yang sempurna itu.

“Bener kata lu Jay, beban gw kayak lepas semua. Gw jadi lebih rileks saat ini” kata Maya. Kami telah berada di pinggir kolam dengan posisi berdiri saling menyamping. Mataku pun melirik-lirik ke arah payudara itu.

“Jay… Jay..” Panggil Maya dan kemudian ia menyipratkan air ke muka ku. Dan aku pun kaget dengan cipratan dimuka ku, membuyarkan lamunanku yang sedari tadi menatap ke arah payudara Maya. Sepertinya memang terobsesi dengan payudara Maya.

“Ehhh… Sial, ngagetin aja” Kataku sambil berusaha menggapai tangan Maya. Dan akhirnya tangan Maya pun dapat aku pegang dan aku tahan tangan itu agar tidak menyiprat lagi ke wajahku. Sengaja aku tarik Maya ke arah badanku, aku ingin sekali payudara montok itu menempel ke dadaku. Aku berusaha sedikit mengalihkan dengan membalas cipratan air tersebut agar aksiku tidak di sadari oleh Maya.

Ternyata Maya masuk ke dalam perangkapku pada saat ia lengah dengan sedikit tarikan akhirnya ia jatuh ke dalam pelukanku. Sungguh kenyal sekali payudara Maya, seluruh kulitku menjadi lebih sensitif dengan bergeseknya pentil Maya yang sedikit mengeras itu rasanya sungguh luar biasa.

Tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Selama ini payudara Maya hanya aku bisa pandang dan bayangkan dari jauh saat ini sudah di depan mata.

“Ehhh sorry may, gw kelewatan. Soalnya lu juga kelewat seksi sih jadinya ga sadar gw narik lu kekencengan” aku berikan alasan kepada Maya seakan itu hanya kejadian yang tidak disengaja.

” Iya gw maafin, lagian ngapain sih pake minta maaf segala. Sebenernya ga perlu lu tarik juga gw bakalan jatuh sendiri ke pelukan lu.” Jawab Maya.

” Selama ini gw sebenernya sudah lama tertarik sama lu. Cuma dennis yang tau selama ini gw suka sama lu. Tapi lu terlalu cuek cuma beraninya liat-liat doank.” Tambah Maya yang kemudian ia membalas pelukanku di atas bahuku. Dan payudara Maya pun seakan terjepit diantara dada kami berdua dan makin menambah keintimian kami berdua.

“Gw pikir lu ada apa-apa sama dennis makanya gw ga berani deketin lu. Gw tau diri lah, kan yang kenal lu dennis duluan.” Jawabku.

“Gw ga ada apa-apa kok sama dennis, gw hanya temen biasa. kita berdua emang temen deket. Kemaren sebenernya gw dah tau lu mau cuti and mau pergi ke luar kota. Makanya gw berharap lu mau ajak gw meskipun gw yang mulai duluan” Maya memberikan penjelasan kepada ku.

“Tapi gw nyangka lu bakal ajak gw ke pulau lombok ini. Bener-bener pas banget momentnya supaya gw bisa deket sama lu jay.” Tambahnya lagi.

Dengan tersenyum aku mulai mendekatkan bibirku ke bibir Maya. Dengan satu kecupan ringan Maya membalasku dengan ciuman yang mesra. Aku mencoba bertahan untuk tidak terlalu menggebu-gebu, aku ingin sekali menikmati moment ini. Dengan kecupan ringan akhirnya ku beranikan untuk menciumnya lebih dalam lagi, kami terlibat french kiss yang perlahan-lahan menggelorakan birahi kami.

Maya semakin mengencangkan pelukannya seakan ia ingin lebih mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Ku raih pinggang Maya dan ku balas pelukannya. Sesekali ku telusuri dengan tangan tubuh mulus maya, dan kembali ku kupeluk dengan penuh kelembutan seakan tak ingin moment ini segera berakhir.

Cukup lama kami saling berciuman, semakin lama semakin memuncak ciuman kami. Dan aku pun mulai memegang payudara Maya tersebut, ku elus dengan mesra disertai dengan remasan yang masih begitu lembut. Maya pun mulai mendesah, dan memegang tanganku seakan ia ingin aku meremas dengan kencang.

Dan akupun mengerti maksud Maya, dengan segera aku turuti Maya kuremas dan aku mulai mendekatkan bibirku untuk menjilat pentil Maya. Ku jilat-jilat terus menerus, dan sesekali aku gigit perlahan pentil Maya yang berwarna pink itu. Semakin aku jilat dan gigit pentil mungil Maya semakin mendesah sambil semakin menekan kepalaku ke hingga tenggelam ke dalam payudara Maya.

“Sssshhh… eeenaakk banget jaay… Terusin jay… Teruss… Yang kenceng jay jangan berhenti…” Desah Maya.
Semakin semangat aku mengeskplorasi payudara maya.

“May, kita pindah yuk ke sofa teras… Kayaknya kurang nyaman disini. Aku ingin sekali memuaskan kamu sayang” kataku kepada Maya sambil membelai lembut rambutnya

“Iya jay, terserah kamu dimana aja… Aku udah ga sabar. Perlakukanku seperti ratu, ratu di hatimu jay”

Kemudian kami berdua saling bergandengan tangan seakan aku hendak menuntun Maya ke arah altar cinta yang telah siap menunggu kehadiran kami. Kemudian aku rebahkan Maya di sofa itu, aku cium Maya dengan mesra.

Sambilku sibak rambutnya aku pun mulai deep french kiss. Cukup lama aku melakukannya dan sepertinya Maya sangat menikmatinya. Ku arahkan tangan kananku ke Payudaranya, kuremas, putar-putar pentilnya hingga membuat Maya menggelinjang. Kupindahkan ciumanku ke lehernya, pindah ke kupingnya, tanpa melepas rangsangan tanganku dari payudaranya.

Lalu aku mulai mengarahkan bibirku ke payudaranya aku cium dan kuhisap payudara itu hingga sedikit memerah. Akhirnya sampai ke pentil merah muda itu, aku jilat pentil itu hingga basah. Kedua payudara itu tak luput dari jilatanku, berpindah-pindah seakan tak pernah puas. Aku gigit dengan lembut pentil itu sambil memainkan pentil itu dengan lidahku.

Terus menerus aku rangsang Maya dengan aksiku itu. Kemudian setelah puas bermain dengan payudara Maya aku mulai turun ke perutnya, lidahku terus bermain-main di perutnya.

Perlahan-lahan aku terus memberikan rangsangan kepada Maya dengan memainkan jari-jariku di sela-sela paha Maya. Jariku terus mencari letak klitoris maya dengan sentuhan lembut. Setelah kutemukan aku mainkan dengan jari tengahku. Permainan jari ini membuat Maya sedikit mengangkat kakinya.

“Hmmmfffhh… Geliii jay… Terus jay… ” Desah Maya dengan mata yang tertutup.

Aku pindahkan tubuhku berada diantara kedua paha Maya. Aku tenggelamkan wajahku ke diantara kedua kakinya itu. Aku tidak mencium sedikitpun bau yang membuatku merasa jijik, justru aroma khas vagina yang membuatku semakin bergairah dan terangsang.

Aku keluarkan lidahku untuk menjilat vaginanya. Tidak ada sedikitpun bagian yang terlewat dari lidahku, aku selipkan lidahku di antara belahan vagina itu, aku telusuri semakin dalam semampuku. Rangsangan ini membuat Maya semakin mendesah tidak karuan.

Aku lihat ia mulai memeras kedua payudaranya. Aku mainkan vagina itu dengan perlahan terkadang juga cepat. Semakin lama cairan lidahku telah bercampur dengan cairan kewanitaannya telah membanjiri vaginanya.

Kedua kaki Maya semakin lama menjepit kepalaku, semakin lama semakin kencang ia menjepitnya. Aku paham bahwa sebentar lagi Maya akan mencapai orgasmenya. Tak lama kemudian jeritan kecil keluar dari mulut Maya

“Jaaay… Gw mauu sampeee… Dikittthh lagiii…” Desah Maya. Setelah itu Maya mulai meregangkan kedua pahanya. Ia telah mencapai orgasmenya. Dan tampak ia mulai lemas setelah orgasme itu.

“Nikmat banget Jay, udah lama aku ga ngerasain.” Kata Maya.

“Aku juga may, aku ngeliat kamu puas aku sudah senang.” Kataku sambil mengelus paha Maya.

“Gantian jay, sekarang kamu yang aku puasin.” Kata Maya kemudian ia duduk menghadapku kemudian memberikan isyarat agar aku berdiri di atas sofa itu. Dan aku mengerti maksudnya. Tidak berlama-lama aku pun langsung berdiri. Penisku seakan menunjuk ke arah Maya seperti meminta-minta untuk segera di puaskan.

Maya pun mendekatiku dengan posisi berdiri di atas dengkulnya. Ia mulai memegang penisku, dan mulai mengocok penisku denga perlahan. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke penisku, ia keluarkan lidahnya dan ia mulai menjilati kepala penisku. Ia mainkan lidahnya di kepala penisku, sesekali lidahnya menelusupkan ke lubang kencingku.

Maya sangat mahir melakukannya, sepertinya ia tidak canggung melakukannya. Ia masukkan penisku ke dalam mulutnya, perlahan dari kepala, hingga batang penisku. Sepertinya ia ingin aku menghayati kulumannya kepadaku.

Semakin lama semakin dalam ia memasukkan penisku ke dalam mulutnya, dengan mulutnya itu ia mulai maju mundur dengan cepat. Ia pun berpegangan ke kedua pahaku. Takut terlepas aku pun memegang kepala Maya dan terkadang aku berusaha membantunya untuk mempercepat kocokan mulutnya itu.

“Maaayyyhh… Udaaaahh… Udaaahh… Aku bisa keluar duluaaann…” Pintaku dengan memelas kepada Maya.

Maya pun akhirnya menghentikannya. Ia pun akhirnya menarik mulutnya dari penisku, dan tersenyum.

“Cepetan Jay, aku sudah ga tahan pengen ngerasain penis kamu di vaginaku” pinta Maya.

“Ihhh kamu dah mulai nakal yah omongannya” godaku kepadanya.

“Kamu duduk Jay, aku ingin di atas” kata Maya.

Tidak perlu waktu lama, aku pun duduk dengan melurukan kakiku. Maya pun mendudukiku. Lagi-lagi bibirnya menciumku. Aku sambut ciuman itu, kali ini ciuman kami benar-benar bernafsu. Ciuman kami semakin liar. Aku arahkan penisku ke vagina Maya, terasa sudah pas akhirnya Maya pun perlahan mulai penetrasi ke penisku.

Ia mulai menurunkan tubuhnya perlahan -lahan sambil tangannya memeluk leherku. Ia sangat menghayati penetrasi itu. Aku merasakan gesekan kulitku di dinding vagina begitu terasa. Rasanya benar-benar luar biasa. Belum pernah aku merasakan seks yang benar-benar bisa aku nikmati seperti saat ini. Akhirnya penisku pun telah tenggelam ke dalam Vaginanya.

“Luuuar biasa May, ga pernah aku ngerasain nikmat yang seperti ini sebelumnya” kataku kepada Maya.

“Nikmati Jay, aku milikmu” Kata Maya sambil memejamkan matanya.

Aku remas payudara Maya, kali ini remasanku sedikit aku kencangkan karena pengaruh rangsangan penetrasi Maya kepada penisku.

Maya pun mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan menggunakan kakinya bertumpu pada lututnya. Ia begitu menghayati setiap kali penis itu keluar masuk dari vaginanya.

Kemudian ia mulai mempercepat tempo penetrasinya. Kami mulai mendaki kenikmatan itu, semakin cepat dan cepat. Gerakan Maya mulai tidak beraturan, dan aku harus memegang pinggul Maya menjaga agar penis itu tidak lepas dari vaginanya.

“Jaaaayyyyyhhh…. Aakuuuuu… Mauuu keluaarrr….” Kata Maya sambil makin mempercepat tempo penetrasi dan semakin tidak beraturan pula tubuhnya.

Akhirnya Maya pun orgasme dengan tubuh yang melengkung ke belakang. Vaginanya pun mulai menjepit dengan keras menekan penisku. Aku tahan tubuh Maya menggunakan tangan kiriku, sedangkan tangan kananku tetap meremas payudara Maya.

Akupun tidak mau melewatkan moment ini, langsung aku rebahkan Maya ke sofa dengan posisi missionaris aku mulai mendaki kenikmatan yang sedikit lagi akan aku capai. Aku langsung mulai dengan penetrasi yang dalam dan tempo yang cepat. Maya pun melingkarkan kedua kakinya ke pinggangku dan memeluk leherku.

Sehingga penetrasi yang aku lakukan begitu dalam dan seperti menyentuh ke bagian terdalam dari vagina Maya. Semakin lama semakin cepat penetrasi itu aku lakukan. Sedikit lagi aku akan mencapai orgasme ku.

“Terussshhh jay,,, terusshh… Aku mulai keluaaarr lagiiiii…. Yang kenceneeeggghhh” desah Maya.

Penisku mulai membesar karena dipenuhi oleh sperma yang akan keluar.

“Di dalemmmhhh ajaaaaa…. Akhhuuuuuu keluuaaaaarrrrr” pekik Maya

“Akkkkuuuu juggaaa maaaayy….” Suaraku tidak kalah keras dengan suara Maya.

Akhirnya keluarlah spermaku ke dalam vagina Maya. Begitu banyak, seakan tidak habis-habis. Aku pun memeluk Maya dengan begitu erat,

Sambil terengah-engah Maya pun berkata ” Luar biasa jay, punyamu bener-bener luar biasa” puji Maya kepadaku.
Aku tidak berkata apa-apa, karena aku benar-benar tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kenikmatan itu. Aku hanya membalas dengan senyuman, dan aku kecup keningnya.

“Terima kasih May.” Hanya itu yang aku ucapkan kepada Maya.

Kamipun saling berpelukan dengan masih bertelanjang. Ia pun memberikan senyuman kepadaku, senyuman itu penuh arti.

“Aku juga Jay.” Kata Maya sambil tersenyum.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts