Repostgt Gara Gara

Peristiwanya terjadi ketika saya masih duduk di SMA. Ketika itu, saya dan Sari (bukan nama aslinya) merupakan teman seperjalanan setiap kami berangkat ke sekolah, karena waktu itu kampung tempat tinggal kami dengan tempat sekolah kami jaraknya kurang lebih 4 km, dan belum terjangkau oleh kendaraan (mobil) disebabkan jalanannya berlubang-lubang dan jembatannya belum terpasang. Karenanya setiap berangkat ke sekolah, kami selalu jalan kaki pulang pergi bersama Sari, meskipun sekolah kami berbeda, tapi gedungnya cukup berdekatan.

Seperti hari-hari sebelumnya, saya dan Sari selalu cepat bangun untuk bersiap-siap ke sekolah (rata-rata jam 5. 30 pagi) agar kami tidak terlambat. Suatu ketika kami janjian untuk lebih cepat berangkat ke sekolah, sebab kebetulan hari pasar ramai. Kami telah sepakat membeli buku, polpen dan buah-buahan di pasar, sehingga pagi itu kami lebih cepat bersiap-siap berangkat dari biasanya.

Kebetulan sekali kami bertemu di Sumur yang berada di tengah sawah, letaknya kurang lebih 1/2 km dari rumah penduduk. Pertemuan saya dengan Sari di sumur itu memang hampir setiap hari, tapi baru kali ini kami hanya berdua, di mana pada hari-hari sebelumnya selalu ramai dikunjungi oleh warga, sebab sumur tersebut termasuk bersih airnya, luas dan tidak pernah kering walau musim kemarau.

Mungkin inilah yang dimaksud orang bahwa pelanggaran atau kejahatan itu bisa terjadi secara tiba-tiba karena ada peluang. Inilah yang menimpa kami saat itu. Pada awalnya, sebagaimana pada pertemuan-pertemuan kami sebelumnya, kami bersikap biasa-biasa saja sebagaimana layaknya teman biasa. Karena pertemuan kami sudah dianggap biasa, maka tidak aneh jika si Sari langsung buka baju dekat sumur untuk cepat-cepat mandi, tapi ia tetap menutupi tubuhnya hingga di bawa ketiaknya dengan sarung mandi.

Waktu itu saya duduk di puncak bukitan kecil yang jaraknya kurang lebih 5 m dari tempat si Sari mandi. Ia tidak pernah merasa malu apalagi takut pada saya, karena saya sudah dianggap sahabat dan keluarga sekampung. Namun, entah setan dari mana yang mengetuk hati saya, tiba-tiba dibenak saya muncul pikiran untuk mencoba menoleh ke arah Sari yang sedang mandi, yang tidak biasa saya lakukan. Muncul keinginan baru di hati saya untuk memperhatikan bentuk bodi si Sari, tapi sayang separuh tubunya tertutub dengan kain sarung mandi, apalagi cuaca masih remang-remang (kurang jelas).

“Sudah selesai Sari,? giliran saya lagi yah,?”. Tanya saya sambil mendekati sumur itu.
“Yeah, baru selesai”, jawabnya.
Bersamaan dengan jawabannya itu, ia langsung memutar badannya ke arah saya. Ia langsung kaget seolah mau berteriak sambil menahan nafas. Ia tidak menyangka jika saya sudah ada di pinggir sumur, yang kebetulan tempatku berdiri lebih tinggi dari tempat Sari mandi.

“Mmmaaf”, serentak kami ucapkan maaf dengan suara yang tak teratur.
“Maaf, Saya tidak tahu jika kamu belum selesai”, kata saya.
“Maaf juga, sebab saya tidak tahu jika kau sudah mendekat”, katanya seolah-olah merasa bersalah pada saya karena waktu memutar badannya ke arah saya ia dalam keadaan terbuka sarung mandinya untuk mengganti sarung yang sudah disiapkan di dekatnya.
Untuk itu, sempat saya menyaksikan pemandangan yang sungguh indah dan menggetarkan hati saya. Saya belum pernah menyaksikan keindahan seperti itu sebelumnya pada gadis lain.

Walaupun hanya sekilas, tapi pemandangan tadi itu cukup mengganggu konsentrasi saya, sehingga terbawa-bawa sampai tiba di rumah. Sejak pemandangan yang saya saksikan di-sumur tersebut, saya selalu berfikiran aneh-aneh pada si Sari, yang selama ini tidak pernah terpikirkan. Karena itu, hubungan persahabatan saya semakin dekat dan akrab, bahkan saya selalu berusaha untuk meningkatkan hubungan itu menjadi hubungan pacar/cinta. Ternyata impian saya itu jadi kenyataan ketika beberapa hari setelah kejadian itu, saya menawarkan belajar bersama di rumahnya dalam bidang studi mate-matika, ternyata ia setuju.

Saya masih ingat, waktu itu malam Minggu tepat pada jam 7. 30 malam, saya sudah berada di rumahnya. Kami sempat makan malam bersama di rumahnya bersama dengan kedua orangtua dan seorang adiknya. Kebetula Sari tinggal bersama kedua orangtuanya dengan seorang adiknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sedangkan Sari sendiri sudah duduk di bangku sekolah sederajat SMA. Berhubung karena bapaknya telah merantau selama puluhan tahun, sehingga ia sangat terlambat dikaruniai adik.

Setelah kami makan bersama, kami mulai belajar bersama-sama di ruang tamu sari. Sedang Bapak Sari, pergi ke rumah tetangganya ngobrol-ngobrol mungkin soal pertanian, sementara Mama dan adiknya ke tempat tidur, mungkin kecapean habis kerja keras di sawah. Pada awalnya belajar bersama kami berjalan lancar tanpa ada gangguan sedikitpun. Kami berdiskusi sambil tukar pengalaman masalah pelajaran di sekolah kami masing-masing.

Setelah jarum jam menunjukkan pukul 10. 00 malam, cara duduk saya masih tetap normal di tempat semula, tapi Sari nampaknya mulai agak kecapean, sehingga ia sedikit merebahkan kepalanya ke sandaran kursi kayu tempat duduknya. Tiba-tiba saya teringat pada keindahan tubuh Sari yang telah saya saksikan di sumur, akhirnya mulai konsentrasi saya terganggu lagi. Mungkin akibat cara duduk Sari yang sedikit menjulurkan kedua kakinya di bawah meja, sehingga sempat bersentuhan dengan kaki saya. Saya mencoba berpura-pura jatuhkan polpen di bawah meja, lalu saya membungkuk di bawah meja tersebut untuk meraih polpen saya yang jatuh itu.

Keadaan konsentrasi belajar saya semakin tidak karuan setelah saya melihat paha Sari saat saya meraih polpen, yang kebetulan jatuh dekat kaki Sari. Bahkan walaupun dag, dug pada jantung saya saat itu, tapi saya tetap memberanikan diri menyentuh dan mengangkat sedikit paha Sari yang tergolong putih mulus di depan mata saya itu dengan alasan meraih pulpen yang ada di bawah kedua kakinya. Bukan main kagetnya waktu itu, ia tiba-tiba tersentak keras ketika merasakan pahanya bersentuhan dengan tangan saya. Mungkin ia kurang biasa tersentuh dengan kulit laki-laki.

“Maaf, saya tidak sengaja Sari”, demikian ucapan saya dengan perasaan takut kalau-kalau ia marah pada saya.
“Tidak apa-apa, kan tidak disengaja, cuma saya sedikit kaget, saya kira apa”, Katanya sambil tersenyum pada saya.
Karena sikapnya yang tidak marah itu, apalagi sedikit tersenyum pada saya, maka saya tentunya sangat bahagia dan bangga, karena memperoleh hasil yang sedikit memuaskan. Yeah, ada motivasi untuk mengembangkan.

Setelah jarum jam menunjukkan pukul 11. 15 m malam itu, saya coba memancing untuk pulang kerumah saya dengan alasan ia sudah mulai ngantuk.
Tapi tiba-tiba”Jangan dulu pulang Aidit, ini masih pagi. Buktinya Bapak saya belum selesai ngobrol di rumah tetangga, apalagi besok kan hari raya, kita tidak perlu cepat-cepat bangun untuk ke sekolah”.
Perkataan Sari dengan penuh harap agar saya masih mau tetap menemaninya belajar. Demikian besarnya harapannya untuk ditemani belajar, sampai-sampai ia dengan berani menarik tangan saya dan menyuruh saya duduk kembali di tempatku.

Padahal dalam hati kecil saya, ingin rasanya berlama-lama bersama Sari. Saya hanya ingin menguji kesetiaan dia terhadap saya setelah saya tadi dengan lancang memegang pahanya. Karena sikapnya mencegah saya pulang kerumah lebih cepat, maka secara otomatis saya bisa meyakini kalau dia juga senang dan penuh perhatian pada saya. Entah apakah di hatinya juga ada perasaan aneh seperti yang saya rasakan atau tidak, tapi yang jelas malam itu saya semakin penasaran untuk bertindak lebih jauh padanya.

Dalam benak saya, suatu kerugian besar jika saya hanya duduk-duduk bersama dia tanpa ada peningkatan reaksi, sebab konsentrasi belajar saya juga sudah tidak terarah dan kesempatan seperti ini juga sulit didapatkan, ditambah dengan munculnya dorongan birahi terhadap dia. Akhirnya walau pelan sekali dan penuh keragu-raguan serta jantung berdebar-debar, saya mencoba sedikit demi sedikit menyentuhkan ujung kaki kanan saya pada salah satu ujung kakinya, namun ia hanya diam dan tidak berkomentar sedikitpun. Malah sempat memandangi wajah saya ketika saya mencoba merapatkan kedua betis saya pada kedua betisnya yang tidak tertutup, tapi hanya sejenak. Setelah itu ia kembali membuka-buka bukunya.

Sambil berpura-pura buka-buka buku di depan saya, saya mencoba meningkatkan reaksi dengan menjulurkan kedua kaki saya lebih ke depan lagi sambil mengangkat sedikit tempat duduk saya ke depan, sehingga lutut saya sempat menyentuh paha Sari yang masih terbungkus sarung. Kali ini ia kembali memandang wajah saya, sehingga sayapun menyambut dengan tatapan yang sama. Cukup lama kami saling menatap tanpa kata-kata dan tanpa gerakan yang berarti. Tiba-tiba”tok, tok, tok”, pintu berbunyi pertanda ada orang yang mau masuk ke rumah. Spontan kami tersentak dan langsung menghentikan kegiatan kami itu.

Setelah Sari berlari membuka pintu, ternyata Bapaknya sudah kembali ke rumah.
“Masih pada belajar?”, tanya Bapaknya.
“Yah pak”, jawaban kami secara serentak.
“Besok kan Sari tidak sekolah pak, jadi kesempatan saya diskusi dengan Aidit, yang lebih luas pengetahuannya dari saya”, kata Sari merayu bapaknya agar kami diizinkan tetap melanjutkan belajar bersama.
“kamu entar enggak dicariin orangtua kamu “, kata bapaknya
sekarang kamu balik gih
Iya pak
Saya pun memberesi buku2 saya ,saya pun segera pulang dengan nanggung sayapun berbisik padanya untuk ketemuan di sumur tua jam 4 pagi besoknya.
Namun, Sari nampaknya tepat waktu, ia tiba di sumur tua di tengah-tengah sawah yang pernah saya sebutkan dalam episod cerita saya yang lalu, sementara saya tiba di sumur itu jam 4.15 subuh hari itu karena agak terlambat bangunnya

Awalnya Sari memang agak kesal menunggu lama, bahkan ia telah selesai mandi, namun masih mencuci beberapa lembar pakaiannya yang sebenarnya belum terlalu kotor dan tidak direncanakan akan dicuci, tapi hanya sekedar alasan kalau-kalau ada warga yang kebetulan mendapatinya sedang menunggu di sumur itu. Tentu saja sebelum ia mengeluarkan kata-kata kesalnya, saya segera mengucapkan permintaan maaf atas keterlambatan saya.

“Mengucapkan maaf itu memang mudah, tapi saya ini selain kedinginan juga malu kalau-kalau ada orang lain melihat saya sendirian di sumur pada subuh hari,” katanya setelah saya minta maaf padanya.

Untuk mengobati kekesalannya Sari itu, tanpa aba-aba saya langsung memeluknya dan mengecup sedikit pipinya, dalam hati saya biar ia merasa lebih hangat. Saya tentu lebih berani melakukan hal itu, karena saya sudah yakin ia pasti senang dan tidak bakal menolak sebab kami telah melakukan di rumahnya lebih dari sekedar memeluk tubuhnya yang langsing itu. Ia pun pasrah tanpa reaksi apa-apa merasakan hangatnya pelukan saya itu, mungkin dia masih agak malu-malu membalas pelukanku, maklum sikap seperti itu sudah merupakan fitrah bagi setiap wanita, apalagi dia masih gadis. Pelukan saya itu tidak berlangsung lama karena dia nampaknya agak minder, sehingga tidak berani memberikan reaksi yang sama.

Setelah saya lepaskan pelukan itu, dia pun beranjak duduk di pebukitan pinggir sumur dan saya segera menuju sumur buat mandi dan langsung melepas semua pakaian saya tanpa selembarpun tersisa di badan saya, lalu menyiramkan air ke seluruh tubuh saya tanpa peduli bahwa secara diam-diam si Sari terus memperhatikanku. Sikap Sari itu sebenarnya saya sadari, tapi saya pura-pura tidak memperhatikannya dan membiarkan saja menikmati pemandangan yang ada pada tubuhku.

Ketika saya sedang mandi, nampaknya diam-diam ia memperhatikanku, maka saya sengaja menggocok-gocok penis saya dengan sabun agak lama tanpa menoleh sedikitpun padanya, biar ia puas memandanginya tanpa perasaan malu dari saya. Saking asiknya dia memandangi alat vitalku yang saya gocok terus itu, sehingga tanpa kami sadari ternyata di belakang Sari ada wanita setengah baya berdiri memperhatikan sikap kami berdua sejak tadi, bahkan ikut menyaksikan dan menikmati tontonan menarik yang saya peragakan di tepi sumur itu. Ternyata yang berdiri itu adalah Mamanya Sari (tak perlu saya sebutkan namanya) yang menyusul anak pertamanya itu ke sumur karena takut terjadi apa-apa pada diri Sari. Apalagi baru kali ini Sari terlalu pagi ke sumur dan agak kelamaan pulangnya, sehingga tentu saja sebagai orang tua yang menyayangi anaknya ia segera saja menyusulnya.

Belakangan baru saya ketahui bahwa Mamanya Sari itu belum pernah menyaksikan secara jelas sebelumnya pemandangan seperti yang saya peragakan di pinggir sumur itu, bukan hanya aksi saya tapi juga barang berharga yang tergantung di selangkangan saya, sebab ternyata setiap ia bersetubuh dengan suaminya selalu dalam keadaan tertutup pakaian tanpa ada rangsangan pendahuluan, dan itupun dilakukannya rata-rata pada tengah malam setelah anak-anaknya diyakini pada tidur nyenyak semua.

Ketika saya sadar bahwa Mamanya Sari sejak tadi berdiri menyaksikan sikap kami, saya segera meraih sarung yang letaknya tidak jauh dari tempat saya berdiri, lalu segera membalutkan ke tubuh saya yang bugil itu, dan berusaha secepatnya pergi meninggalkan Sari yang berdiri bersama Mamanya sekitar 2 meter dari pinggir sumur itu. Saya sama sekali tidak mampu mengeluarkan suara sedikitpun, mulut saya tiba-tiba seolah terkunci dan demikian pula halnya si Sari yang hanya berdiri agak gemetaran di samping Mamanya itu.. Ia tak mampu melangkahkan kaki, apalagi berbicara.

Ketika saya bergegas pulang dan melangkah sekitar 7 m dari tempat Sari dan Mamanya berdiri, tiba-tiba.

“Aidit.., koe jolo iko..! (sini dulu kamu..!)” demikian bentakan Mama si Sari pada saya dalam bahasa daerah kami.

Suaranya lantang, keras dan runcing sekali membuatku tersentak dan takut sekali jika ia marah dan melaporkan kejadian ini pada suaminya, orang tuaku, warga kampung dan.. Pokoknya rasa takutku luar biasa pada waktu itu melebihi rasa takutku pada orang tuaku sendiri ketika beliau marah padaku. Suaranya keras bagaikan petir dan seteron yang menyengat sekujur tubuhku. Mukanya merah kehitaman seperti orang habis dipukul dan ingin balas dendam.

Tanpa suara sedikitpun, saya pelan-pelan mendekatinya dan pasrah menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan atas sikap kami berdua tadi, yang kurang senono menurut pandangan masyarakat di kampungku.

“Tongentongeng pada ikotu massifa olok-oloko, asu..! (Kalian ini betul-betul bersifat binatang, anjing..!)”.

Kata ibunya Sari lebih lanjut setelah saya berada sekitar 2 m di depannya sambil menunjuk muka saya.
“Addampengakka puang, tappasalaka kasi, (maafkan kami bu, kami khilaf)”.

Begitulah kata-kata saya di depannya dengan bahasa daerah yang sama sambil sedikit berbungkuk sebagai tanda kesopanan dan penghargaan saya padanya.

“Maupe’ko tu ia bawang mitako, tania tahu laingnge, magani kira-kira nakko engka tahu lain mitako atau missengngi gaunu nye, apalagi bafa’nu, naulle kafang nauno manekko” peringatannya lebih lanjut seolah menasehatiku.
Maksudnya bahwa “Untung hanya saya yang melihatmu atau mengetahuimu, tidak ada orang lain, kira-kira apa jadinya jika ada orang lain yang melihat dan mengetahuimu, apalagi bapakmu, mungkin ia membunuh kalian”.

Suara dan warna mukanya mulai sedikit normal. Setelah itu, saya disuruh pulang dengan cepat agar saya tidak terlambat ke sekolah, apalagi sudah mulai berdatangan warga untuk ambil air di sumur itu yang menunjukkan bahwa hari sudah mulai siang, nampak pula matahari di ufuk Timur memancarkan sinarnya. Saya sedikit lega karena kemarahan Mamanya Sari agak menurun, bahkan nampaknya ia dapat merahasiakannya dan tidak memberi ancaman hukuman apa-apa pada kami. Sayapun segera berlari pulang hingga sampai di rumah, sedang Sari berjalan bersama Mamanya.

“Dit.., kenapa kamu terlambat pulang dari sumur nak, cepat-cepatlah, nanti kamu terlambat di sekolah, sehingga kamu dimarahi oleh gurumu)”.

Hanya itulah kata-kata Mamaku dari dapur setelah saya tiba di rumah dengan menggunakan bahasa daerah.

“Terlalu banyak orang mau ambil air di sumur, sehingga terpaksa kita antri” hanya itu jawaban saya pada Mamaku sedikit berbohong.

Lalu tanpa sempat sarapan pagi, saya langsung meraih buku pelajaranku dan segera pamit meninggalkan rumah sambil sedikit berlari tanpa menunggu lagi Sari, agar aku tidak terlalu ketinggalan mengikuti materi pelajaran jam pertama di sekolah.

Sesampai di sekolah, sayapun langsung masuk ke kelasku dan duduk di tempat yang biasanya saya duduki karena memang sedang kosong.

“Kenapa kamu terlambat, dari pasar lagi yeah?” tanya ketua kelasku yang kebetulan duduk berdampingan denganku.
Mendengar pertanyaan temanku itu, saya lalu menjawab dengan sedikit berbohong, “Yah, tapi kan belum juga kita belajar”.

Kebetulan saya dengan ketua kelasku sangat akrab, sehingga ia tak tega melaporkan hal ini pada guru, apalagi dia pun juga sering terlambat jika hari pasar. Kebetulan jarak antara sekolah kami dengan pasar kecamatan hanya sekitar 100 m. Mendengar ucapan saya itu, spontan terdengar suara tawa dari beberapa teman yang duduk di sekitarku. Ternyata saya yang ditertawakan karena baru saya tahu kalau pelajaran pertama hari itu baru saja selesai sekitar 3 m yang lalu setelah ketua kelasku menunjukkan jam tangan yang dikenakannya, ternyata sudah jam 9.00. Mereka semua pada menunggu guru yang akan mengajar pada jam kedua.

Untung keterlambatanku tidak ada yang berani melaporkannya pada kepala sekolah atau pada guru lainnya, apalagi antara saya dengan ketua kelas sudah saling pengertian, boleh dikata satu rahasia. Walaupun saya dengan tenang mengikuti materi-materi pelajaran pada hari itu hingga akhir pelajaran, namun pikiran saya tak pernah terkonsentrasi pada materi, melainkan pikiran saya selalu tertuju pada peristiwa di sumur tadi pagi. Yang selalu menghantui saya adalah apakah perbuatan saya dengan Sari tadi tidak akan diketahui orang lain kecuali Mamanya si Sari saja? akankah hal ini tidak sampai dilaporkan dan diketahui bapaknya Sari? dan apakah Sari masih mau dan masih dibiarkan jalan bersama dengan saya seperti pada hari-hari sebelumnya? Hanya itulah yang selalu membayangi pikiranku dalam perjalanan pulang dari sekolah.

Hari itu saya berjalan sendirian pulang dan tidak berusaha menunggu si Sari dari sekolahnya seperti pada hari-hari sebelumnya, sebab mungkin ia malu ketemu saya setelah ia dimarahi oleh Mamanya di depan saya ketika di sumur itu atau dilarang oleh Mamanya pergi ke sekolah, apalagi ketemu dan berjalan bersama dengan saya, serta berbagai macam dugaan pertanyaan yang muncul di pikiran saya mengenai keadaan Sari setelah kejadian tadi subuh itu di sumur. Hingga saya tiba di rumah, pikiran saya tidak pernah konsentrasi pada pelajaran di sekolah, keadaan di perjalanan dan makanan yang ada di rumah, bahkan selera makanku tiba-tiba berkurang setelah sebelumnya saya selalu makan dengan nikmat sekali akibat jauhnya perjalanan yang saya tempuh pulang balik antara rumah dan sekolah saya.

Sudah 3 hari setelah kejadian itu saya tidak ketemu Sari, hingga pada hari keempat dari kejadian itu, saya penasaran ingin ketemu Sari untuk menanyakan keadaan dirinya yang sebenarnya setelah kejadian itu, sehingga saya coba bangun agak lebih awal dari biasanya agar bisa saya ketemu di sumur seperti biasanya siapa tahu dia selalu ke sumur lebih pagi. Pagi itu, saya tiba di sumur itu kurang 3 m jam 4.00 subuh menunggu kedatangan Sari. Tapi hingga jam 4.15 m ia belum juga datang. Dalam hati saya mungkin ia selalu datang ke sumur agak terlambat dari biasanya. Karena itu, walaupun saya selesai mandi, namun saya berniat mencoba menunggunya sampai jam 4.30, jika ia tidak datang juga, saya harus pulang biar besoknya lagi saya coba ke sumur agak terlambat lagi, siapa tahu bisa ketemu.

Baru saja saya mau duduk di pebukitan di sekitar sumur itu untuk menunggu datangnya Sari, tiba-tiba terdengar suara tidak jauh dari belakangku.

“Kamu Aidit, apa yang kamu tunggu di situ, kamu tunggu lagi Sari yah, kamu mau peraktekkan lagi, betul-betul kamu tidak kapok yah”.

Kagetnya aku bukan main setelah mendengar suara itu dengan bahasa daerah tulen, ternyata datangnya dari Mamanya Sari. Belum saya sempat bicara dan menjawab pertanyaan Mamanya Sari itu, tiba-tiba ia memegang bahu kiriku dan menyatakan (semua kata-kata yang diucapkan Mamanya Sari selalu dengan bahasa daerah Bugis, tapi saya tak perlu mengutip semuanya dalam cerita ini).

“Sejak saya ketahui perbuatanmu dengan Sari waktu itu, saya melarang lagi Sari bertemu denganmu, apalagi bergaul/bersamamu, jadi sabar saja sebab terlanjut kuketahui perbuatanmu, untung saja saya tidak lapor sama bapaknya”.

Itulah kata-kata yang disampaikan Mamanya Sari pada saya ketika ketemu di sumur itu. Hati kecilku berkata ternyata betul dugaanku, Sari dilarang lagi oleh Mamanya bergaul dan jalan bersama denganku. Bahkan baru kali itu saya tahu dari Mamanya Sari jika Sari (anaknya) tidak pernah masuk sekolah dan tak pernah lagi ke sumur itu, karena Mamanya melarangnya kecuali ditemani oleh Mamanya atau adiknya. Mungkin karena rasa malu atau jengkel sama Mamanya sehingga Sari mandi dan mencuci di sumur lain yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, meskipun airnya kurang bagus dan sering kering. Si Sari menurut Mamanya selalu murung dan lebih banyak dalam kamar dengan alasan sakit, sehingga ia dan suaminya tidak mau memaksa anaknya itu ke sekolah, meskipun Mamanya sendiri tahu jika hal itu hanya alasan semata, tapi tetap ia memaklumi perasaannya.,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts